bytedaily - Anggota Komisi XI DPR RI, Eric Hermawan, menekankan pentingnya penguatan pengelolaan fiskal guna menyikapi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada 2025. Ia menyoroti perlunya evaluasi mendalam untuk menjaga keseimbangan antara pendapatan dan belanja negara.
Realisasi pendapatan negara tercatat Rp2.756,3 triliun (91,7% dari target) dengan total belanja mencapai Rp3.451,4 triliun, menghasilkan defisit Rp695,1 triliun atau 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sedikit melampaui asumsi 2,78%.
Eric mengidentifikasi optimalisasi penerimaan perpajakan sebagai elemen krusial untuk memperkuat struktur fiskal. Meskipun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) melampaui target, surplus ini dinilai belum cukup menutupi kesenjangan signifikan pada sektor pajak, yang realisasi penerimaannya baru mencapai 89,0% dari target.
Selain itu, kualitas alokasi belanja negara juga perlu ditingkatkan agar lebih efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Anggota Komisi XI itu mencatat ketidakseimbangan dalam realisasi belanja Kementerian/Lembaga dan non-Kementerian/Lembaga yang berpotensi menurunkan efektivitas belanja.
Perubahan keseimbangan primer dari target surplus menjadi defisit serta peningkatan pembiayaan anggaran yang signifikan juga menjadi perhatian. Hal ini meningkatkan risiko utang dan biaya pembiayaan di masa mendatang.
Menyikapi hal tersebut, Eric mendorong konsolidasi fiskal terukur pada 2026 dengan target pendapatan negara Rp3.153,6 triliun dan defisit 2,68% PDB. Upaya ini harus diimbangi dengan kebijakan yang menjaga stabilitas ekonomi serta memberikan perlindungan bagi masyarakat.