bytedaily
Senin, 06 Juli 2026 - 18:59 WIB

Pakar IPB Ungkap Penyebab Bogor Semakin Panas, Bukan Hanya Karena Fenomena Alam

Redaksi 06 Juli 2026 1 views
Pakar IPB Ungkap Penyebab Bogor Semakin Panas, Bukan Hanya Karena Fenomena Alam
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, pakar sekaligus dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Givo Alsepan, menjelaskan bahwa meningkatnya suhu udara di Bogor, yang dikenal sebagai Kota Hujan yang sejuk, disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor. Fenomena iklim global seperti El Nino-Southern Oscillation (ENSO), pemanasan global, serta perubahan tutupan lahan akibat urbanisasi pesat menjadi penyebab utamanya.

Secara klimatologis, suhu udara rata-rata di Bogor berkisar antara 25,5 hingga 27 derajat Celsius. Namun, fenomena El Nino yang saat ini sedang berkembang di Samudra Pasifik tropis dan diprediksi berlangsung hingga akhir tahun 2026, menyebabkan pasokan uap air ke Indonesia berkurang dan curah hujan menurun. Pergeseran awan dari wilayah Indonesia ke Pasifik mengurangi tutupan awan, sehingga radiasi Matahari lebih banyak mencapai permukaan Bumi dan membuat cuaca terasa lebih panas.

Givo Alsepan menambahkan bahwa El Nino merupakan pemicu jangka pendek, sementara perubahan iklim global menjadi masalah yang lebih besar dengan tren suhu yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Data klimatologi menunjukkan suhu rata-rata tahunan di Bogor mengalami peningkatan konsisten sejak sekitar tahun 1990, sejalan dengan kenaikan suhu rata-rata Bumi akibat pemanasan global. Jika tidak ada upaya mitigasi yang serius, tren pemanasan ini akan berlanjut.

Perubahan bentang alam di Bogor juga memperparah kondisi ini. Berkurangnya ruang terbuka hijau dan semakin luasnya kawasan terbangun memicu fenomena urban heat island, di mana suhu permukaan meningkat. Penelitian Nurwanda dan Honjo (2018) menunjukkan ekspansi kawasan perkotaan di Bogor yang sangat cepat, terutama pada periode 1997-2007. Perbedaan suhu antara kawasan urban dan suburban meningkat signifikan dari 1,36 derajat Celsius pada 1990 menjadi hampir 2,26 derajat Celsius pada 2017. Hal ini menegaskan bahwa pembangunan kota yang tidak diimbangi perlindungan ruang hijau akan memperkuat dampak perubahan iklim secara lokal, sehingga menjaga tutupan vegetasi menjadi strategi pembangunan kota yang krusial.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.