bytedaily
Senin, 19 Oktober 2026 - 06:15 WIB

Pakarnya Jelaskan Mengapa Hujan Abu Vulkanik Anak Krakatau Tidak Dapat Diprediksi Kapan Berhenti

Redaksi 07 September 2026 14 views
Pakarnya Jelaskan Mengapa Hujan Abu Vulkanik Anak Krakatau Tidak Dapat Diprediksi Kapan Berhenti
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, hujan abu vulkanik menyebar ke beberapa wilayah di Provinsi Lampung setelah letusan Anak Krakatau pada Sabtu (5/9) sore hari.

Menurut Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), tidak ada kalender yang dapat menentukan akhir hujan abu tersebut karena erupsi akan berhenti hanya ketika cadangan magma di dalam perut bumi habis dan tekanan magma kembali stabil.

Daryono menambahkan, selama kantong magma di bawah gunung terus menerima suplai magma baru dari kedalaman bumi, letusan susulan yang menghasilkan abu akan terus terjadi secara bergantian, kadang tenang, kadang meningkat.

Penyebaran abu dipengaruhi oleh dua faktor utama: kekuatan letusan dan arah angin. Letusan yang kuat dapat mengangkat partikel abu halus ke ketinggian tinggi, sementara angin kencang akan mengantarkannya jauh, bahkan ratusan kilometer, sebelum turun kembali ke permukaan.

Pasokan magma dianggap selesai ketika dorongan alami dari dalam bumi melemah. Tanpa tekanan yang cukup, magma dalam saluran gunung akan mendingin, mengeras, dan akhirnya tersumbat oleh batuan di sekitarnya, sehingga gunung kembali stabil dan tidak lagi memuntahkan material.

Tanda-tanda berkurangnya pasokan magma dapat dilihat melalui pemantauan alat, seperti berkurangnya gempa dalam, penurunan bau gas, serta penyusutan bentuk gunung. Namun, Daryono mengakui bahwa belum ada teknologi yang dapat mengukur sisa magma secara akurat karena kedalaman dan kompleksitas sistem bumi.

Para ahli vulkanologi biasanya memprediksi akhir aktivitas gunung dengan memantau pola penurunan gempa, deflasi, dan deformasi permukaan, bukan dengan menebak tanggal tertentu. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada PVMBG Badan Geologi yang terus melakukan pemantauan.

Hujan abu vulkanik yang terjadi sejak pukul 17.00 WIB pada Sabtu (5/9) meliputi Kabupaten Lampung Selatan, Kota Bandar Lampun, Lampung Timur, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Pesisir Barat, Mesuji, dan Lampung Barat. Warga melaporkan mata perih, tenggorokan tidak nyaman, serta gangguan pernapasan, yang diperkirakan dipicu oleh perubahan arah angin yang membawa abu lebih jauh.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.