bytedaily
Selasa, 18 Agustus 2026 - 08:21 WIB

Pembatasan Model AI China Diprediksi Rugikan Bisnis AS Hingga Rp216 Triliun

Redaksi 05 Agustus 2026 10 views
Pembatasan Model AI China Diprediksi Rugikan Bisnis AS Hingga Rp216 Triliun
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, larangan terhadap model kecerdasan artifisial (AI) berbobot terbuka yang berasal dari China berpotensi menimbulkan kerugian finansial bagi bisnis di Amerika Serikat. Perkiraan kerugian ini mencapai US$12 miliar atau sekitar Rp216 triliun setiap tahunnya.

Perhitungan ini disampaikan oleh Daniel Yue, Asisten Profesor di Scheller College of Business, Georgia Institute of Technology, berdasarkan analisis data penggunaan model AI dari OpenRouter. OpenRouter sendiri merupakan platform agregator model bahasa besar yang memfasilitasi pengembang untuk berpindah antar berbagai model AI melalui satu antarmuka pemrograman aplikasi (API).

Yue memperkirakan bahwa pengguna OpenRouter dapat menghadapi peningkatan biaya sekitar US$2 miliar per tahun jika dipaksa beralih dari model AI berbobot terbuka asal China ke model berbayar tertutup yang terkemuka. Perhitungan ini didasarkan pada data penggunaan token dan perbedaan harga antara model terbuka dan tertutup yang diamati pada periode 21 hingga 27 Juli.

Jika dampak ini diperluas ke seluruh perekonomian Amerika Serikat, tambahan biaya yang ditanggung bisa mencapai US$3 miliar hingga US$12 miliar, tergantung pada sejauh mana ketergantungan terhadap model AI berbobot terbuka dari China. Namun, Yue menekankan bahwa angka ini merupakan estimasi kasar mengenai besaran biaya, bukan proyeksi pasti, mengingat sulitnya melacak penggunaan AI di luar platform terpusat dan fakta bahwa OpenRouter hanya mewakili sebagian kecil dari pasar global penggunaan model bahasa besar.

Kekhawatiran pemerintah AS terhadap model AI berbobot terbuka dari China meningkat pasca peluncuran Kimi K3 oleh Moonshot AI pada akhir Juli. Kemampuan Kimi K3 dalam beberapa pengujian disebut mampu bersaing dengan model tertutup terkemuka dari Anthropic dan OpenAI. Peluncuran ini kembali memicu upaya pemerintahan AS untuk melarang model sumber terbuka asing, seperti yang dilaporkan oleh Axios, dengan pejabat AS menuduh Moonshot AI melanggar kekayaan intelektual milik AS.

Meskipun demikian, potensi pembatasan ini menuai penolakan dari sejumlah perusahaan teknologi di Amerika Serikat. Nvidia, Palantir, dan Meta Platforms termasuk di antara perusahaan yang menandatangani surat terbuka untuk mendesak pemerintah AS agar tidak membatasi model berbobot terbuka. Mereka memperingatkan bahwa pembatasan yang diterapkan terlalu dini dapat menghambat persaingan atau mendorong inovasi berpindah ke negara lain.

Lebih lanjut, Yue menyatakan bahwa dampak ekonomi dari pembatasan AI China masih sulit dipastikan karena belum jelas apakah perusahaan AS akan beralih ke model tertutup atau mengurangi sebagian penggunaan AI mereka. Jaya Gupta, mitra di perusahaan modal ventura Foundation Capital, memperkirakan opsi kedua mungkin terjadi. Dalam esainya yang berjudul "AI's 2008 Moment", Gupta menjelaskan bahwa banyak sistem penting dan industri di AS bergantung pada model berbobot terbuka untuk menjalankan AI secara lokal. Ia berpendapat bahwa larangan menyeluruh dapat menyebabkan hilangnya sebagian besar permintaan AI secara cepat, yang berpotensi memicu kejatuhan pasar infrastruktur AI yang memiliki tingkat utang tinggi, terutama karena pusat data dibangun dengan pinjaman berdasarkan perkiraan permintaan di masa depan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.