bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membantah keras tudingan bahwa Indonesia digunakan sebagai jalur pengalihan barang asal China untuk masuk ke pasar Amerika Serikat (AS). Bantahan ini disampaikan sebagai respons terhadap laporan berjudul The Great Transshipment Scam yang diterbitkan oleh Office of Trade and Manufacturing Policy, Gedung Putih, AS.
Dalam laporan tersebut, Indonesia dikategorikan dalam Tier 2 bersama Brasil, Malaysia, Thailand, Turki, dan Vietnam. Kategori ini diberikan kepada negara-negara yang dinilai memiliki integrasi ekonomi kuat dengan China dan berpotensi menjadi jalur transshipment.
Airlangga menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak pernah dilibatkan atau diberi tahu mengenai studi tersebut. "Indonesia tidak pernah terlibat ataupun diberi tahu mengenai adanya studi ini," ujar Airlangga di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Ia juga secara tegas menyatakan bahwa tudingan Indonesia menjadi bagian dari jaringan transshipment global adalah tidak benar.
Menanggapi sorotan laporan terhadap jalur Bekasi-Batam, Airlangga menjelaskan bahwa kawasan industri di kedua wilayah tersebut telah berkembang sejak tahun 1990-an dan menjadi pusat berbagai kegiatan manufaktur. "Jaringan akses Batam dan Bekasi. Kita dapat menyatakan bahwa kawasan industri Batam dan Bekasi itu sudah ada sejak tahun 90-an," katanya.
Lebih lanjut, Airlangga memaparkan bahwa industri berbasis plastik di kawasan tersebut tidak menunjukkan pola pengalihan barang dari negara lain. Mayoritas perusahaan yang bergerak di industri pengemasan berbahan plastik di Indonesia adalah perusahaan nasional. "Kalau industri berbasis plastik, packaging-nya itu seluruhnya adalah sebagian besar perusahaan nasional," jelasnya.
Kebutuhan bahan baku plastik di dalam negeri, menurut Airlangga, juga sudah dapat dipenuhi secara mandiri oleh produsen lokal seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk dan Lotte Chemical. "Jadi tidak benar ini menggunakan transshipment dari negara lain untuk memproses," tegasnya.
Airlangga menambahkan, produk plastik dan kemasan yang dihasilkan sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik atau diekspor ke negara-negara tetangga, bukan ditujukan untuk pasar Amerika Serikat. "Plastik packaging-nya sebagian besar digunakan sendiri di dalam negeri ataupun diekspor ke sekitaran, tetapi bukan ke Amerika Serikat," pungkasnya.