bytedaily
Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:32 WIB

Penelitian NASA: Perubahan Lingkungan Matahari Pengaruhi Iklim Bumi Kuno

Redaksi 28 Agustus 2026 5 views
Penelitian NASA: Perubahan Lingkungan Matahari Pengaruhi Iklim Bumi Kuno
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah penelitian yang didanai oleh NASA mengemukakan bahwa peristiwa bersejarah dalam aktivitas Matahari diduga turut berperan dalam membentuk iklim Bumi dan memicu perubahan iklim di masa lalu.

Para ilmuwan selama ini telah mengkaji faktor-faktor internal Bumi seperti perubahan orbit, gas rumah kaca, dan lapisan es untuk menjelaskan fluktuasi iklim Bumi yang signifikan selama puluhan juta tahun. Namun, studi terbaru dari program SHIELD (Solar Wind with Hydrogen Ion charge Exchange and Large-Scale Dynamics) di bawah naungan pusat sains DRIVE milik NASA menyoroti pengaruh faktor eksternal, yaitu perubahan lingkungan Matahari, terhadap suhu Bumi.

Penelitian ini menganalisis pergerakan heliosfer, sebuah gelembung pelindung raksasa yang terbentuk dari aliran angin dan partikel yang dipancarkan Matahari ke segala arah. Studi yang dipublikasikan pada 21 Agustus di jurnal Annual Review of Astronomy and Astrophysics ini menemukan bahwa lingkungan yang dilalui heliosfer dapat memicu perubahan di Bumi.

Merav Opher, peneliti utama SHIELD, dan timnya mengidentifikasi bahwa Matahari setidaknya tiga kali bersinggungan dengan kumpulan gas dan debu antarbintang yang sangat dingin dalam beberapa juta tahun terakhir. Interaksi ini menyebabkan heliosfer menyusut, sehingga Bumi menjadi lebih terekspos pada lingkungan antarbintang.

Periode paparan ini diperkirakan terjadi sekitar 2-3 juta tahun lalu, 6-7 juta tahun lalu, dan 13-14 juta tahun lalu. Hasil simulasi komputer menunjukkan adanya kesesuaian dengan bukti geologis, di mana unsur-unsur yang ditemukan dalam debu antarbintang juga terdeteksi dalam sampel inti sedimen laut dalam, salju Antartika, dan sampel dari Bulan pada rentang waktu tersebut. Ketika atmosfer Bumi terpapar awan hidrogen galaksi yang dingin dan padat, peningkatan kandungan uap air dan perubahan dinamika atmosfer atas diyakini mengubah kondisi permukaan Bumi.

Temuan mengenai heliosfer dan heliofisika ini berpotensi memberikan penjelasan untuk perubahan iklim purba di Bumi, termasuk misteri evolusi, kemungkinan terjadinya zaman es, serta membuka wawasan tentang sistem bintang lain yang berpotensi layak huni.

Sementara itu, penelitian terpisah oleh Vladimir Airapetian dari Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA, yang diterbitkan di Astrophysical Journal Letters, membahas paradoks bagaimana Bumi dapat tetap hangat saat Matahari purba memiliki kecerahan yang lebih rendah, hanya sekitar 70 persen dari intensitas saat ini. Pada kondisi tersebut, Bumi seharusnya membeku.

Paradoks ini dijawab dengan mengamati bintang-bintang muda yang mirip Matahari, yang sering mengalami letusan superflare besar yang melontarkan partikel berenergi tinggi. Airapetian berhipotesis bahwa lontaran partikel berenergi tinggi dari Matahari muda dapat memicu reaksi kimia yang menghasilkan pemanasan di Bumi purba.

Para peneliti melakukan simulasi atmosfer Bumi dengan mencampurkan berbagai gas, lalu menembakkan proton ke dalamnya untuk mereplikasi serangan partikel superflare. Paparan proton ini terbukti memicu produksi nitrogen oksida, sebuah gas rumah kaca yang jauh lebih kuat daripada karbon dioksida. Meskipun radiasi ultraviolet Matahari dapat mengurainya, konsentrasi nitrogen oksida yang relatif kecil saja sudah cukup untuk menghangatkan wilayah khatulistiwa Bumi hingga beberapa derajat di atas titik beku.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.