bytedaily
Rabu, 19 Agustus 2026 - 15:03 WIB

Pengembangan Panas Bumi Jadi Kunci Swasembada Energi Nasional

Redaksi 19 Agustus 2026 2 views
Pengembangan Panas Bumi Jadi Kunci Swasembada Energi Nasional
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir dari ekonomi.republika.co.id, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pengembangan potensi panas bumi merupakan elemen krusial dalam mewujudkan agenda swasembada energi dan hilirisasi nasional, sejalan dengan arah kebijakan Asta Cita Pemerintah.

Dalam upaya tersebut, Kementerian ESDM memfokuskan empat prioritas utama, meliputi peningkatan pasokan energi, perluasan jangkauan layanan energi, akselerasi transisi energi, serta percepatan hilirisasi. Bahlil menyatakan bahwa Indonesia saat ini menduduki peringkat kedua global dalam hal kapasitas terpasang panas bumi.

Bahlil merinci, potensi panas bumi Indonesia mencapai 23.202,77 MW, dengan kapasitas terpasang baru sekitar 2.776,39 MW. Angka ini menunjukkan bahwa baru 11,6 persen dari total potensi yang dimanfaatkan, sementara 88,4 persen sisanya masih belum tergarap.

Potensi panas bumi Indonesia tersebar di berbagai wilayah, dengan Sumatera memimpin sebesar 9.441,10 MW, diikuti oleh Jawa (7.587,80 MW), Sulawesi (3.006 MW), dan Nusa Tenggara (1.272,87 MW). Wilayah Kalimantan, Bali, Maluku, dan Papua juga memiliki potensi yang signifikan, meskipun belum tercatat kapasitas terpasangnya.

Melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan Indonesia menjadi produsen energi panas bumi terbesar di dunia pada tahun 2030. Pengembangan ini tidak hanya bertujuan mendukung transisi energi, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Untuk tahun ini, pemerintah telah menyiapkan pengembangan di dua lokasi Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (WPSPE) serta empat Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), dengan estimasi sumber daya sekitar 131 MW, tambahan kapasitas 185 MW, dan proyeksi investasi sebesar 1,16 miliar dolar AS. Pemerintah juga berupaya mempercepat pengembangan panas bumi melalui revisi regulasi, termasuk PP Nomor 7 Tahun 2017 dan Perpres Nomor 112 Tahun 2022, guna mendukung pemanfaatan tidak langsung dan meningkatkan daya tarik investasi.

Lebih lanjut, Bahlil menjelaskan konsep 'Beyond Geothermal' atau 'geothermal economy', yang mengoptimalkan panas bumi tidak hanya untuk pembangkitan listrik. Contohnya adalah ekstraksi mineral di Proyek Dieng yang berpotensi menghasilkan 2.190 ton litium dan 8.000 ton silika per tahun, mendukung agenda hilirisasi mineral bernilai tambah.

Pemanfaatan langsung panas bumi juga telah diterapkan dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Di Kamojang, panas bumi digunakan untuk mempercepat pengeringan kopi, sementara di Lahendong, energi ini dimanfaatkan untuk pengolahan gula aren sebagai alternatif ramah lingkungan yang dapat menghemat lebih dari 330 pohon per tahun.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.