bytedaily
Selasa, 07 Juli 2026 - 08:32 WIB

Peningkatan Kelas Ekonomi Vietnam dan Filipina Perketat Persaingan di ASEAN, Indonesia Dituntut Tingkatkan Produktivitas

Redaksi 07 Juli 2026 1 views
Peningkatan Kelas Ekonomi Vietnam dan Filipina Perketat Persaingan di ASEAN, Indonesia Dituntut Tingkatkan Produktivitas
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Menurut informasi dari ekonomi.republika.co.id, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa peta persaingan ekonomi di kawasan ASEAN kini semakin ketat. Hal ini menyusul kenaikan status Vietnam dan Filipina ke dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas, sebagaimana ditetapkan oleh Bank Dunia.

Bank Dunia mendefinisikan negara berpendapatan menengah atas sebagai negara dengan pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita berkisar antara 4.636 hingga 14.375 dolar AS untuk tahun fiskal 2027. Dengan masuknya Vietnam dan Filipina, kini ada lima negara ASEAN dalam kategori ini, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Rizal Taufikurahman menjelaskan bahwa persaingan di ASEAN tidak lagi hanya berpusat pada biaya tenaga kerja murah, melainkan telah bergeser ke arah kompetisi dalam hal produktivitas, industrialisasi, ekspor, dan kualitas sumber daya manusia (SDM). Kondisi ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia.

Tantangan utama bagi Indonesia adalah meningkatnya persaingan dalam menarik investasi asing. Investor akan membandingkan Indonesia dengan negara-negara lain seperti Vietnam yang unggul dalam sektor manufaktur berorientasi ekspor, Filipina yang kuat di sektor jasa dan memiliki tenaga kerja terdidik, serta Malaysia dan Thailand yang lebih mapan dalam rantai pasok industri.

Di sisi lain, kemajuan negara-negara ASEAN ini juga membuka peluang kolaborasi untuk menciptakan basis produksi yang terintegrasi. Namun, hal ini mensyaratkan Indonesia untuk mampu berpartisipasi lebih dalam pada rantai nilai regional, tidak hanya sebatas menjadi pasar besar atau pemasok bahan mentah.

Rizal mengidentifikasi keunggulan Indonesia terletak pada skala ekonomi yang besar, pasar domestik yang luas, sumber daya alam yang strategis, serta potensi hilirisasi. Kendati demikian, Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala, termasuk tingkat produktivitas tenaga kerja yang belum optimal, tingginya biaya logistik dan energi, ketidakpastian regulasi yang sering berubah, serta kesenjangan kualitas SDM dan inovasi.

Ia menambahkan bahwa dibandingkan dengan Vietnam dan Filipina, Indonesia memiliki keunggulan dalam ukuran pasar dan sumber daya alam, namun masih perlu meningkatkan agresivitas dalam manufaktur ekspor, efisiensi birokrasi, dan kualitas tenaga kerja.

Mengenai target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi, Rizal menilai hal tersebut masih realistis dalam jangka panjang, namun sulit dicapai dalam waktu dekat. Ambang batas negara berpendapatan tinggi menurut Bank Dunia adalah GNI per kapita di atas 14.375 dolar AS, sementara Indonesia masih berada dalam kelompok menengah atas.

Oleh karena itu, kunci utama bagi Indonesia bukan hanya pada pencapaian pertumbuhan ekonomi lima persen, melainkan pada dorongan pertumbuhan yang berbasis produktivitas. Hal ini dapat dicapai melalui industrialisasi bernilai tambah, peningkatan ekspor manufaktur dan jasa modern, pengembangan pendidikan vokasi, inovasi, kepastian investasi, serta reformasi birokrasi. Tanpa langkah-langkah tersebut, Indonesia berisiko terjebak dalam 'middle-income trap', yaitu kondisi naik kelas secara statistik namun belum mampu menjadi ekonomi maju.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.