bytedaily - Konflik antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun dampaknya tidak langsung ke pasar finansial global, telah memicu ketidakpastian yang signifikan dan mengalihkan arus modal menjauhi pasar berkembang, termasuk Indonesia. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menjelaskan bahwa meskipun Iran dan Israel bukan pusat keuangan global, keterlibatan AS sebagai pusat ekonomi dunia memperbesar efek domino dari eskalasi geopolitik ini.
Dampak tidak langsung ini termanifestasi dalam perilaku 'risk-off' di kalangan investor global. Investor cenderung beralih dari aset berisiko tinggi ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS. Hal ini terlihat dari penguatan indeks dolar (DXY) dan kenaikan imbal hasil obligasi AS (US Treasury) yang mencapai kisaran 4,5-4,6 persen. Akibatnya, aliran modal ke negara-negara berkembang mengalami perlambatan.
Di Indonesia, fenomena ini tercermin dalam catatan BI mengenai arus modal keluar (outflow) sebesar Rp21 triliun. Meskipun terdapat aliran masuk di instrumen Surat Berharga Negara (SBN), pasar saham, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), secara agregat, Indonesia mengalami penarikan dana. Kondisi ini meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar mata uang dan menyoroti kerentanan pasar berkembang terhadap gejolak geopolitik global.