bytedaily
Kamis, 21 Mei 2026 - 02:49 WIB

Perang Global dan Daya Beli Jadi Pengganjal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Momen Lebaran 2026

Redaksi 27 Maret 2026 13 views
Perang Global dan Daya Beli Jadi Pengganjal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Momen Lebaran 2026
Ilustrasi: Perang Global dan Daya Beli Jadi Pengganjal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Momen Lebaran 2026

bytedaily - Momentum Ramadhan dan Idul Fitri, yang biasanya menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi musiman di Indonesia, kini dihadapkan pada tantangan signifikan akibat gejolak geopolitik global dan kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat. Para ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026, yang seharusnya diuntungkan oleh tingginya konsumsi, berpotensi meleset dari target idealnya.

Analis memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026 berkisar di angka 5,05 persen, sedikit di atas target pemerintah yang diprediksi antara 5,5-5,6 persen. Namun, potensi pertumbuhan ini dapat terhambat oleh dua faktor utama. Pertama, kecenderungan masyarakat untuk menahan belanja Tunjangan Hari Raya (THR) dan mengalihkannya ke tabungan akibat kekhawatiran akan kenaikan harga energi dan pangan pasca-lebaran.

Kedua, potensi perlambatan laju ekonomi juga dipicu oleh belum optimalnya arus balik pemudik akibat terbatasnya lapangan pekerjaan di perkotaan, yang biasanya menjadi tujuan utama pencari kerja setelah merantau. Untuk mengatasi hambatan ini, pemerintah didorong untuk fokus pada pengendalian inflasi agar masyarakat lebih percaya diri dalam membelanjakan THR, serta menggencarkan penciptaan lapangan kerja untuk meningkatkan kualitas mobilitas pasca-lebaran.

Sebagai respons terhadap tantangan ini, pemerintah telah meluncurkan sejumlah stimulus ekonomi, termasuk insentif transportasi mudik seperti diskon tiket kereta api, angkutan laut, jasa penyeberangan, dan potongan harga tiket pesawat. Selain itu, dukungan terhadap sektor pariwisata melalui promosi destinasi wisata baru juga diusulkan untuk memperpanjang durasi tinggal wisatawan selama periode mudik, demikian disampaikan oleh Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman.

Rizal memperkirakan, momentum Idul Fitri dapat menyumbang sekitar 0,2 hingga 0,5 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026. Peningkatan konsumsi rumah tangga, yang merupakan kontributor terbesar PDB, didukung oleh pencairan THR, bantuan sosial, dan stimulus mobilitas. Lonjakan konsumsi ini diharapkan dapat memberikan efek pengganda yang luas pada sektor ritel, transportasi, akomodasi, UMKM, serta redistribusi aktivitas ekonomi ke daerah.