bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, perdagangan Indonesia diperkirakan akan mengalami pertumbuhan cepat dalam lima tahun ke depan, namun tingkat keterhubungannya dengan pasar dunia masih berada di posisi yang rendah.
Menurut dua studi yang dirilis oleh DHL, Trade Atlas 2025 menempatkan Indonesia bersama India, Vietnam, dan Filipina di antara 30 negara teratas yang diprediksi memiliki pertumbuhan perdagangan tercepat serta penambahan volume perdagangan pada periode 2024‑2029. Sementara itu, Global Connectedness Report 2026 mencatat Indonesia berada pada peringkat ke‑112 dari 180 negara dengan skor konektivitas sebesar 47.
Pasar domestik yang luas selama ini menjadi kekuatan utama ekonomi Indonesia, memberi produsen ruang untuk berkembang tanpa harus segera menembus pasar luar negeri. Namun, ukuran pasar dalam negeri yang besar juga dapat mengurangi dorongan untuk mengekspor, karena penjualan antar kota terasa lebih mudah dibandingkan dengan proses pengiriman lintas negara yang memerlukan pemenuhan persyaratan, perhitungan biaya, penyusunan dokumen, serta kepastian jadwal kedatangan barang.
Secara global, hanya sekitar 21 persen nilai barang dan jasa yang diproduksi berakhir di luar negara asalnya, menandakan bahwa sebagian besar aktivitas ekonomi masih berpusat pada pasar domestik.
Indeks konektivitas tidak semata-mata mencerminkan nilai ekspor, melainkan mengukur sejauh mana aliran perdagangan, modal, informasi, dan tenaga kerja melintasi batas negara dibandingkan dengan ukuran ekonomi masing‑masing.
Untuk meningkatkan keterhubungan, Indonesia perlu memperluas basis eksportir, menembus lebih banyak pasar, dan menjaga konsistensi pertumbuhan ekspor. Momentum ini didukung oleh perkiraan pertumbuhan rata‑rata 5 persen per tahun pada volume perdagangan ASEAN selama 2024‑2029, yang menempatkan Indonesia di tengah jaringan produksi dan perdagangan regional yang semakin penting.
Peluang ekspor tidak terbatas pada komoditas saja; sektor manufaktur, produk konsumen, industri kreatif, makanan olahan, komponen, serta produk berbasis teknologi semuanya memiliki potensi untuk menjangkau pasar internasional yang lebih luas.
Namun, akses ke jaringan internasional sangat dipengaruhi oleh kedekatan produsen dengan pelabuhan, bandara, atau kawasan industri. Daerah yang jauh dari pintu ekspor menghadapi tantangan logistik yang lebih berat, sehingga memperlambat atau menambah biaya dalam proses ekspor.
Masalah utama tetap bahwa produk yang kompetitif belum tentu mudah keluar dari negara asalnya. Setelah menerima pesanan, eksportir harus memindahkan barang dari lokasi produksi ke jaringan pengiriman internasional, yang menuntut infrastruktur logistik yang kuat dan terintegrasi.