bytedaily - Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan, lebih dari 5 persen, pasca Amerika Serikat menyampaikan proposal 15 poin untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Langkah diplomasi ini meningkatkan harapan akan gencatan senjata dan berpotensi mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global.
Produk minyak mentah berjangka Brent terpantau anjlok 5,9 persen menjadi US$98,28 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS turun 5,1 persen ke level US$87,68 per barel. Penurunan ini mencerminkan reaksi pasar terhadap potensi meredanya ketegangan geopolitik yang sebelumnya memicu kenaikan harga komoditas energi.
Analis menilai peluang gencatan senjata kini sedikit menguat, yang mendorong aksi ambil untung oleh pelaku pasar. Namun, ketidakpastian mengenai keberhasilan negosiasi masih membatasi potensi penurunan harga lebih lanjut. Potensi lonjakan harga minyak kembali mengemuka apabila konflik berlanjut dan meluas ke fasilitas energi atau mengancam jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz.
Perdagangan minyak dan gas alam cair melalui Selat Hormuz, yang krusial bagi sekitar seperlima pasokan energi global, telah terhenti akibat konflik. Akibatnya, Badan Energi Internasional (IEA) mencatatnya sebagai salah satu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Kendati demikian, terdapat indikasi bahwa jalur tersebut dapat kembali dilalui kapal-kapal non-musuh dengan koordinasi otoritas Iran, meskipun serangan sporadis masih dilaporkan terjadi.