bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat fenomena sekunder yang muncul bersamaan dengan erupsi Anak Krakatau, yaitu gangguan geomagnetik dan petir vulkanik pada 6 September.
Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa intensitas gangguan geomagnetik yang dipicu oleh petir vulkanik mengalami peningkatan, meskipun belum mencapai tingkat sebesar saat letusan awal. Ia menambahkan bahwa sensor‑sensor yang berada di Lampung Selatan dan Serang mendeteksi gangguan geomagnetik yang beririsan dengan peningkatan sambaran petir vulkanik selama 12 jam terakhir.
Proses terbentuknya petir vulkanik tidak jauh berbeda dengan petir pada awan kumulonimbus (Cb) pada umumnya. Pada awan biasa, uap air yang naik ke lapisan atas atmosfer membeku menjadi butiran es; ketika butiran es tersebut jatuh dan bertabrakan dengan partikel lain, terjadi ionisasi yang memisahkan muatan positif dan negatif. Elektron‑elektron yang terlepas mengumpul di bagian bawah awan, sehingga bagian atas menjadi bermuatan positif dan bagian bawah bermuatan negatif. Perbedaan muatan ini dapat menghasilkan beda tegangan hingga 100 juta volt, yang pada akhirnya memicu sambaran petir.
Petir vulkanik muncul di dalam kolom letusan gunung berapi yang berisi uap air, abu, debu, dan partikel vulkanik lainnya. Suhu tinggi pada erupsi, diperkirakan mencapai sekitar 1.227 °C, menyebabkan ionisasi atom‑atom debu netral sehingga terbentuk ion‑ion positif dan negatif dalam jumlah besar. Perbedaan ukuran, berat, dan kecepatan jatuh partikel‑partikel tersebut memperkuat pemisahan muatan; ion negatif umumnya lebih besar dan lebih berat, sehingga bergerak lebih lambat dibanding ion positif yang lebih ringan.
Selain perbedaan kecepatan, partikel yang lebih besar dan berat juga cenderung jatuh lebih cepat karena gaya gravitasi, sementara tumbukan antarpartikel (aerodynamic sorting) turut berperan dalam memicu ionisasi. Kombinasi faktor‑faktor ini menghasilkan beda potensial listrik di dalam awan abu vulkanik, yang pada akhirnya memicu sambaran petir vulkanik.