bytedaily - Gempa kuat M7,6 yang mengguncang Bitung pada Kamis (2/4) dilaporkan berasal dari Punggungan Mayu, sebuah struktur geologis di laut Maluku. Analisis dari BMKG mengindikasikan kedalaman gempa yang relatif dangkal (33 km), dikategorikan sebagai megathrust, dan berjenis sesar naik. Mekanisme sesar naik ini menimbulkan kewaspadaan tinggi karena potensi tsunami yang lebih besar.
Punggungan Mayu terbentuk akibat dinamika tektonik kompleks di wilayah Indonesia, khususnya tumbukan lempeng-lempeng besar seperti Eurasia, Indo-Australian, Pasifik, dan Laut Filipina. Proses ini menciptakan 'suture' atau zona penyatuan lempeng, termasuk Suture Sulawesi. Sulawesi sendiri memiliki sejarah pembentukan geologi yang rumit akibat tubrukan antara Paparan Sunda dan benua Australia, menghasilkan wilayah akresi yang kaya akan fragmen ofiolit, busur kepulauan, dan material kontinen.
Aktivitas tektonik ini terus membentuk struktur geologi di Sulawesi, mengaktifkan sesar-sesar yang ada, dan memicu terangkatnya berbagai jenis batuan. Khusus di Sulawesi Utara, Punggungan Mayu menjadi hasil dari tumbukan ganda antar busur kepulauan. Struktur geologi utama di pulau ini adalah Sesar Palu Koro yang membentang luas, namun terdapat pula sesar-sesar aktif lainnya yang terus berkontribusi pada aktivitas seismik di wilayah tersebut.