bytedaily
Senin, 06 Juli 2026 - 15:48 WIB

Ratusan Pelamar Muda Kesulitan Cari Kerja di Inggris

Redaksi 29 Mei 2026 17 views
Ratusan Pelamar Muda Kesulitan Cari Kerja di Inggris
Ilustrasi visual (Sumber: bbc.com)

bytedaily - Dilansir dari bbc.com, para ahli mengkhawatirkan munculnya "generasi yang hilang" di Inggris, di mana lebih dari satu juta anak muda berusia di bawah 24 tahun kini terjebak tanpa pekerjaan atau program pelatihan yang menjanjikan masa depan.

Lima orang muda yang mengalami situasi tersebut menceritakan tantangan yang mereka hadapi. Zaynah, 24 tahun, mengaku telah melamar lebih dari 200 pekerjaan sejak lulus kuliah setahun lalu, namun tidak pernah mendapat respons dari para pemberi kerja. Ia kini mengikuti program bantuan kepercayaan diri dari badan amal Spear.

Zaynah menjelaskan bahwa kondisi kesehatannya, eksim, sempat menghalanginya menekuni seni kuku, yang merupakan minatnya. Ia kini fokus melamar pekerjaan di bidang tata rias, khususnya di sektor ritel. "Saya belum pernah bekerja sebelumnya... Saya sama sekali tidak percaya diri. Saya sangat pemalu," ujarnya.

Kini, Zaynah merasa ada perubahan besar dalam dirinya. Ia merasa lebih percaya diri dan mampu melakukan percakapan dengan lebih baik, berbeda dengan masa lalu ketika ia kesulitan mencari topik pembicaraan karena rasa malu. Ia menduga kurangnya pengalaman menjadi kendala utama dalam pencarian kerjanya.

Sementara itu, Luke, 23 tahun, lulusan desain produk dari Central St Martin's University, telah melamar lebih dari 400 posisi namun belum juga mendapatkan pekerjaan. Ia menggambarkan proses lamaran kerja online sebagai hal yang rumit dan berulang-ulang, di mana informasi yang sama harus diisi kembali dalam format yang berbeda.

Luke merasa lulusan universitas seharusnya memiliki peluang lebih besar untuk pekerjaan tingkat awal. Namun, ia menemukan kenyataan bahwa banyak perusahaan tidak memiliki dana yang cukup atau pekerjaan telah digantikan oleh kecerdasan buatan (AI). "Jumlah penolakan yang saya terima pasti membuat depresi. Itu memalukan," katanya.

Sejak Maret tahun lalu, Luke mulai menerima tunjangan Universal Credit. Ia merasa pengalaman mencari kerja di pusat-pusat pekerjaan sangat menyedihkan dan memberinya rasa penolakan. Ia merasa semua yang telah ia pelajari terasa sia-sia di era sekarang.

Luke juga menghadapi dilema lain: ia dianggap terlalu berkualitas untuk pekerjaan dasar seperti menata rak, namun tidak memiliki pengalaman yang cukup untuk pekerjaan yang sesuai dengan gelarnya. Ia telah ditolak untuk berbagai posisi, termasuk petugas kebersihan, barista, staf kafe, resepsionis hotel, dan pelayan restoran. Ia hanya pernah mendapatkan satu wawancara untuk posisi petugas kebersihan, namun tidak pernah mendapat kabar kelanjutannya.

Tarun, 18 tahun, terpaksa menghentikan studinya untuk kembali ke India saat neneknya meninggal. Sejak itu, ia kesulitan mencari pekerjaan. Ia sempat mengambil pelatihan tukang ledeng tingkat dua, namun dikeluarkan karena harus kembali ke India. Setelah kembali, ia merasa terjebak dalam lingkaran tanpa akhir karena terus-menerus ditolak karena kurang pengalaman.

Untuk memotivasi dirinya, Tarun mulai menulis lagu rap. "Saya tidak punya siapa pun untuk memotivasi saya, jadi saya memotivasi diri sendiri," katanya. Ia merasa aktivitas ini sangat membantunya.

Eloise, 24 tahun, juga belum berhasil menemukan pekerjaan yang sesuai dengan gelar sarjana kelas satu yang dimilikinya.


Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi bbc.com.