bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, tiga unit rumah yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dilaporkan tidak mengalami kerusakan struktural setelah diguncang gempa bermagnitudo M7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8). Ketiga prototipe rumah tahan gempa ini berlokasi di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.
Sebelumnya, BRIN telah membangun ketiga prototipe rumah cepat bangun tersebut sebagai bagian dari upaya pengembangan teknologi konstruksi yang tahan terhadap gempa. Rumah-rumah ini dirancang dengan tujuan agar dapat dipertimbangkan dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi hunian masyarakat di daerah rawan bencana.
Hasil pemantauan pascagempa menunjukkan bahwa tidak ada retakan yang terjadi pada bagian dinding, kolom, maupun fondasi bangunan. Kerusakan yang tercatat bersifat minor, seperti terlepasnya sebagian keramik dinding kamar mandi dari semen pada panel Sandwich EPS dan pecahnya keramik akibat guncangan.
Vian Marantha Haryanto, Perekayasa Ahli Muda BRIN, menjelaskan bahwa rumah-rumah ini dirancang khusus menggunakan teknologi konstruksi tahan gempa untuk kawasan dengan risiko kegempaan tinggi seperti NTT. Ia menyatakan bahwa hasil ini membuktikan efektivitas desain dan metode konstruksi yang diterapkan dalam melindungi struktur bangunan dan keselamatan penghuninya.
Meskipun hasil pengujian lapangan menunjukkan kondisi struktur yang baik, BRIN berencana untuk melakukan pengujian lebih lanjut di laboratorium untuk mendapatkan validasi teknis. Pengujian ini akan menggunakan uji siklik sesuai SNI 3966:2012 di laboratorium Pusat Riset Kekuatan Struktur dan dijadwalkan dilaksanakan pada tahun 2026.
Dokumentasi kondisi bangunan per 16 Agustus 2026 menunjukkan ketiga prototipe rumah BRIN tetap berdiri kokoh, sementara bangunan Sekolah Dasar (SD) Rangko di lokasi yang sama dilaporkan mengalami kerusakan struktural akibat gempa.
Kinerja ketiga prototipe rumah ini dianggap penting sebagai bagian dari evaluasi pengembangan rumah modular tahan gempa yang telah dilakukan BRIN sejak 2019. Pengembangan ini mencakup pembangunan prototipe di Kabupaten Tangerang, Kabupaten Lebak, dan terakhir di NTT.
BRIN juga telah menyempurnakan teknologi konstruksi, termasuk pada generasi kedua rumah modular tahan gempa yang dilengkapi teknologi rubber bearing seismic. Teknologi ini memanfaatkan karet alam atau polimer elastis untuk meredam getaran gempa dengan memisahkan struktur bagian bawah dan atas bangunan.
Vian menjelaskan bahwa komponen rubber bearing seismic dirancang untuk menahan gaya geser saat terjadi gempa, sehingga dampak guncangan pada struktur bangunan dapat berkurang.
Hasil evaluasi terhadap ketiga rumah di Labuan Bajo ini akan menjadi masukan penting dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. BRIN mendorong pemerintah daerah dan pusat untuk mempercepat pemulihan rumah warga terdampak dengan mengadopsi standar konstruksi tahan gempa, serta mereplikasi model rumah tahan gempa ini secara lebih luas.