bytedaily
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:43 WIB

Rupiah Melemah ke Rp 18.004 per Dolar AS, BI Sebut Faktor Pendorong

Redaksi 29 September 2026 13 views
Rupiah Melemah ke Rp 18.004 per Dolar AS, BI Sebut Faktor Pendorong
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, rupiah kembali melewati level Rp 18 ribu per dolar AS. Bank Indonesia menyebut pelemahan dipengaruhi sejumlah faktor dan menyatakan akan melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip pada Selasa (29/9/2026), sekitar pukul 11.20 WIB rupiah melemah 26 poin atau 0,14 persen menjadi Rp 18.004 per dolar AS. Dalam sepekan terakhir, mata uang ini menunjukkan tren pelemahan.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan tekanan berasal dari kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko fiskal. Kekhawatiran itu sejalan dengan kenaikan harga minyak yang melampaui 108 dolar AS per barel, sementara kesepakatan mengenai pembukaan Selat Hormuz belum tercapai.

Erwin menjelaskan, situasi tersebut meningkatkan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau UST tenor 10 tahun pun naik ke 5,23 persen, tertinggi sejak 2007. Kebutuhan valuta asing importir menjelang akhir kuartal III serta arus keluar dana dari aset portofolio di negara-negara emerging markets ketika imbal hasil obligasi meningkat turut menekan rupiah.

Meski demikian, menurut Erwin, pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang regional. Pelemahannya secara quarter-to-date tercatat terbatas sebesar 0,67 persen. Cadangan devisa Indonesia juga meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.