bytedaily - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat, diperdagangkan di kisaran Rp16.913 per dolar AS pada Jumat (13/3) pagi. Pelemahan ini menandai penurunan 20 poin atau 0,12 persen dari sesi perdagangan sebelumnya.
Kondisi pelemahan rupiah kontras dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang cenderung menguat, seperti yen Jepang, baht Thailand, dan won Korea Selatan. Mata uang negara maju seperti euro, poundsterling Inggris, franc Swiss, dolar Australia, dan dolar Kanada juga dilaporkan mengalami penguatan.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengaitkan pelemahan rupiah dengan kenaikan harga minyak global. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah, khususnya pernyataan mengenai potensi penutupan Selat Hormuz, menjadi pemicu sentimen risk-off yang turut menekan mata uang Garuda.
Lukman memprediksi rupiah akan melanjutkan tren pelemahan dalam rentang Rp16.850 hingga Rp16.950 terhadap dolar AS pada perdagangan hari itu, seiring dengan ketidakpastian yang masih membayangi pasar energi dan geopolitik.