bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Duta Besar Rusia untuk ASEAN, Evgeny Zagaynov, menyatakan bahwa Rusia siap untuk berdiskusi dengan negara-negara di Asia Tenggara mengenai penyelarasan sistem transaksi dan ekonomi digital. Menurut Dubes Zagaynov, inisiatif ini dapat dijalin baik secara bilateral maupun melalui kerangka kerja ASEAN sebagai sebuah organisasi.
Lebih lanjut, Zagaynov mengakui bahwa target perdagangan antara ASEAN dan Rusia sebesar 100 miliar dolar AS masih memerlukan waktu untuk tercapai. Ia mengaitkan hal ini dengan situasi geopolitik global dan pembatasan hukum yang diberlakukan terhadap Rusia. Tantangan utama dalam meningkatkan volume perdagangan, menurutnya, adalah upaya negara-negara Barat yang menghambat kerja sama Rusia dengan negara-negara Asia Tenggara dan negara berkembang lainnya. Hambatan tersebut meliputi pembatasan keuangan yang dianggap tidak sah dan ancaman sanksi sekunder.
Zagaynov menekankan pentingnya menentang ancaman tersebut dan mencari solusi bersama mitra di kawasan. Pembatasan tersebut berdampak langsung pada Rusia dan mitra-mitranya di ASEAN, menghambat kontribusi Rusia terhadap pembangunan kawasan. Sektor energi, termasuk energi tradisional, nuklir, transisi energi, dan ekonomi digital, diidentifikasi sebagai area prioritas kerja sama perdagangan.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Zagaynov menyebutkan perlunya menyelesaikan masalah logistik dan aspek keuangan kerja sama, serta mengembangkan skema keuangan alternatif. Sebelumnya, Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan bilateral dengan Rusia bertujuan untuk mengurangi risiko tekanan fiskal global dan memperkuat kerja sama.