bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Samsung Electronics memperkirakan bahwa kelangkaan chip semikonduktor secara global akan semakin memburuk dan diperkirakan berlangsung hingga tahun 2028. Fenomena ini dipicu oleh lonjakan permintaan yang signifikan dari sektor pusat data kecerdasan buatan (AI).
Sebagai produsen chip memori terbesar di dunia, Samsung telah mengumumkan adanya perjanjian pasokan jangka panjang dengan sejumlah operator pusat data terkemuka. Perusahaan ini dikabarkan telah menjalin kesepakatan dengan lima perusahaan pusat data terbesar di dunia dan sedang dalam tahap negosiasi dengan lima perusahaan besar lainnya, meskipun identitas para mitra tersebut tidak diungkapkan.
Wakil Presiden Eksekutif Bisnis Memori Samsung, Jaejune Kim, menyatakan dalam sebuah panggilan laporan keuangan bahwa mayoritas pelanggan meminta kontrak pasokan yang berlaku selama beberapa tahun. Samsung menargetkan kontrak jangka panjang ini akan mencakup sekitar dua pertiga dari total produksi memorinya.
Kim menjelaskan bahwa kontrak-kontrak tersebut diperkirakan akan berlangsung minimal lima tahun dan umumnya meliputi pembayaran di muka serta penetapan harga minimum. Skema ini dirancang untuk meminimalkan risiko investasi modal dan kerentanan terhadap fluktuasi industri chip.
Meskipun prospek permintaan chip dinilai kuat, para investor dilaporkan masih memiliki kekhawatiran terkait besarnya pengeluaran infrastruktur AI oleh perusahaan teknologi serta meningkatnya persaingan dari China. Hal ini tercermin dari pergerakan saham Samsung yang sempat melonjak, namun akhirnya ditutup melemah, sementara saham rivalnya, SK Hynix, juga mengalami penurunan.
Analis Mirae Asset Securities, Kim Seok-hwan, menyoroti bahwa narasi seputar chip telah melemah, dan investor mulai mempertanyakan daya tahan margin keuntungan yang tinggi. Unit semikonduktor Samsung sendiri mencatat margin laba operasional yang impresif sebesar 70 persen pada kuartal kedua, dengan laba operasional mencapai 89,2 triliun won atau sekitar US$61,7 miliar, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, kenaikan harga chip yang menguntungkan satu sisi perusahaan justru membebani bisnis perangkat seluler Samsung. Divisi ini dilaporkan mengalami kerugian sebesar 700 miliar won, menandai kerugian kuartalan pertamanya. Analis eToro, Josh Gilbert, berpendapat bahwa kondisi ini membuat Samsung semakin bergantung pada harga chip memori dan keberlanjutan permintaan dari perusahaan pusat data berskala besar. Laba kuartalan Samsung secara keseluruhan melampaui gabungan pendapatan selama tiga tahun terakhir, dengan posisi kas bersih mencapai 167 triliun won pada akhir Juni.