bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Gunung Anak Krakatau kembali mengeluarkan material vulkanik pada Jumat, 4 September pukul 23.07 WIB hingga dini hari Sabtu, 5 September, tepatnya di Selat Sunda.
Gunung ini terbentuk akibat letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883, yang menghancurkan sebagian besar struktur gunung utama dan menciptakan kaldera besar di wilayah Selat Sunda.
Pada akhir 1927, aktivitas kembali muncul di dalam kaldera tersebut, meskipun pada saat itu masih berada di bawah permukaan laut.
Akumulasi material vulkanik selama dua tahun berikutnya menghasilkan sebuah gunung baru yang muncul pada tahun 1929 dan diberi nama Gunung Anak Krakatau.
Sejak kemunculannya, gunung ini terus mengalami proses pembangunan; lava, abu, serta material vulkanik lainnya secara bertahap menumpuk di sekitar kawah, memperbesar tubuh gunung.
Badan Geologi mengklasifikasikan Anak Krakatau sebagai gunung berapi aktif tipe A yang terletak di perairan Selat Sunda, dengan aktivitas magmatik yang dapat berfluktuasi.
Menurut data Badan Geologi, pada tahun 2026 aktivitas gunung ini menunjukkan peningkatan signifikan beberapa bulan sebelum erupsi. Emisi gas sulfur dioksida (SO₂) dan anomali suhu yang terdeteksi oleh satelit sejak Juni 2026 menjadi indikator utama.
Akibat peningkatan tersebut, status gunung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026, menandakan potensi bahaya yang lebih besar.
Penjelasan umum tentang proses gunung berapi menyatakan bahwa magma dapat naik melalui retakan hingga mencapai permukaan, berubah menjadi lava dan material vulkanik lainnya yang kemudian menumpuk di sekitar kawah. Proses berulang dapat menambah tinggi dan mengubah bentuk gunung, meskipun tidak selalu berarti pertumbuhan ukuran.
Namun, pada tahun 2018 Anak Krakatau mengalami proses sebaliknya ketika sebagian besar massanya longsor ke laut, memicu tsunami pada 22 Desember 2018 yang melanda pesisir Banten dan Lampung. Peristiwa ini menegaskan bahwa ancaman gunung tidak terbatas pada lava, abu, atau batuan lontar.
BMKG mencatat bahwa longsoran material vulkanik ke laut merupakan bahaya sekunder yang dapat menimbulkan tsunami non‑tektonik, meskipun tidak setiap erupsi menghasilkan tsunami. Pemantauan gunung ini kini tidak hanya berfokus pada ketinggian kolom abu atau intensitas letusan, melainkan juga pada perubahan bentuk gunung, pergerakan massa batuan, aktivitas magma, dan kondisi laut di sekitarnya.
Karena Anak Krakatau masih tergolong gunung berapi muda yang terus tumbuh, setiap episode erupsi menjadi bagian penting dari proses evolusi gunung serta sumber informasi kritis bagi para pakar dalam upaya mitigasi risiko.