bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, harga bensin dan diesel di berbagai negara masih tinggi meski Selat Hormuz kembali dibuka. Risiko keamanan di jalur tersebut membuat biaya pengangkutan minyak dari kawasan Teluk Persia meningkat.
Di Amerika Serikat, rata-rata harga bensin nasional tercatat US$4,36 per galon atau setara Rp20.607 per liter berdasarkan kurs yang dicantumkan dalam laporan. Data AAA menunjukkan harga itu merupakan yang tertinggi untuk periode yang sama dalam setahun.
Gangguan pasokan akibat perang Iran turut berdampak pada pengemudi, sopir truk, dan petani di sejumlah negara. UK Maritime Trade Operations melaporkan beberapa kapal dagang terkena proyektil di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir, termasuk sedikitnya dua tanker minyak mentah.
Risiko tersebut tercermin pada tarif sewa kapal tanker raksasa atau Very Large Crude Carrier (VLCC). Data Clarksons mencatat biaya sewa rute Teluk Persia-China mencapai US$1,6 juta per hari, jauh di atas tarif US$65 ribu per hari pada tahun sebelumnya. Biaya asuransi untuk satu perjalanan pulang-pergi melewati Selat Hormuz juga disebut mencapai US$30 juta hingga US$40 juta.
Tom Kloza, penasihat energi utama Gulf Oil, mengatakan biaya untuk mengeluarkan minyak dari Teluk Persia meningkat dari sekitar US$2 menjadi US$33 per barel. Ia menilai jumlah minyak mentah yang berhasil dikirim tidak menggambarkan besarnya ongkos yang harus ditanggung.
Perbedaan harga minyak fisik dan kontrak berjangka juga melebar. S&P Global Platts mencatat harga Dated Brent, minyak fisik untuk pengiriman segera, sebesar US$135,74 per barel pada Kamis (8/10), sementara Brent futures berada di sekitar US$100 per barel. Menurut CNN, harga minyak fisik tersebut pada akhirnya berpengaruh pada harga di stasiun pengisian bahan bakar.
Pasar energi juga menghadapi gangguan di Selat Bab al-Mandeb akibat serangan Houthi. Serangan drone Ukraina terhadap kilang di Rusia turut mengganggu pasokan diesel, sementara Rusia membatasi ekspor BBM untuk menghadapi kebutuhan dalam negeri. China juga membatasi ekspor guna menjaga pasokan domestiknya.
Di Amerika Serikat, sejumlah kilang telah beroperasi maksimal, sedangkan sebagian lainnya mengurangi produksi untuk menjalani perawatan rutin. Pada saat yang sama, stok minyak komersial dan cadangan darurat dunia menyusut tajam. Kondisi tersebut mendorong kenaikan premi harga meskipun aliran minyak melalui Selat Hormuz telah pulih mendekati tingkat sebelum perang.