bytedaily - Dilansir dari bbc.com, SpaceX milik Elon Musk menunda peluncuran roket Starship raksasanya dan berencana melakukan upaya uji coba penerbangan yang sangat dinantikan pada hari Jumat.
Penundaan ini terjadi sehari setelah perusahaan mengungkapkan rencana debut pasar saham yang memecahkan rekor, di mana peluncuran sukses roket baru yang kuat itu diharapkan dapat menarik investor untuk membeli saham.
Penawaran Umum Perdana (IPO) di pasar saham Nasdaq yang didominasi teknologi ini diproyeksikan menjadi yang terbesar dalam sejarah Wall Street dan dapat dimulai bulan depan dengan simbol ticker SPCX.
Karena saham yang akan dimilikinya di SpaceX, pencatatan saham ini berpotensi menjadikan Musk, yang sudah menjadi orang terkaya di dunia, sebagai triliuner pertama.
Musk menyatakan melalui media sosial bahwa penundaan disebabkan oleh pin hidrolik yang malfungsi pada bagian menara peluncuran.
"Jika itu bisa diperbaiki malam ini, akan ada upaya peluncuran lain besok pukul 05:30 Waktu Tengah (22:30 GMT)," tambahnya.
SpaceX memproduksi roket, menawarkan layanan internet satelit bernama Starlink, dan juga memiliki perusahaan kecerdasan buatan (AI) kontroversial, xAI.
Peluncuran tanpa awak ini akan menandai debut roket Starship V3 setelah penundaan pengujian selama berbulan-bulan.
SpaceX menggambarkannya sebagai "sistem peluncuran paling kuat yang pernah dikembangkan" dalam dokumen IPO-nya.
"Kami memperkirakan Starship V3 akan mampu membawa muatan 100 metrik ton, dengan generasi Starship di masa depan dirancang untuk menggandakan muatan ini," tambahnya.
Roket ini dilengkapi puluhan peningkatan yang dirancang untuk peluncuran cepat satelit Starlink milik perusahaan dan misi NASA ke bulan.
SpaceX telah menghabiskan lebih dari 15 miliar dolar AS (sekitar Rp240 triliun) untuk program Starship, menurut pengajuan perusahaan.
SpaceX menilai dirinya senilai 1,25 triliun dolar AS (sekitar Rp20.000 triliun), dan kepemilikan mayoritas Musk di perusahaan tersebut berarti sahamnya bisa bernilai lebih dari 600 miliar dolar AS (sekitar Rp9.600 triliun).
Tahun lalu, Musk, yang juga menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) produsen kendaraan listrik (EV) Tesla, menjadi orang pertama yang mencapai kekayaan bersih lebih dari 500 miliar dolar AS (sekitar Rp8.000 triliun).
Tahun lalu, Space Exploration Technologies, sebagaimana nama resminya, mencatatkan pendapatan 18,6 miliar dolar AS (sekitar Rp297 triliun) namun mengalami kerugian bersih sebesar 4,9 miliar dolar AS (sekitar Rp78 triliun).
Dalam tiga bulan pertama tahun ini, perusahaan mencapai penjualan 4,7 miliar dolar AS (sekitar Rp75 triliun) namun membukukan kerugian bersih sebesar 4,3 miliar dolar AS (sekitar Rp68 triliun).
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi bbc.com.