bytedaily
Kamis, 21 Mei 2026 - 01:08 WIB

Tantangan Ekonomi 2026: Peringkat Daya Saing Merosot, Inflasi Mengintai, Ekspor Tertekan

Redaksi 19 April 2026 15 views
Tantangan Ekonomi 2026: Peringkat Daya Saing Merosot, Inflasi Mengintai, Ekspor Tertekan
Ilustrasi: Tantangan Ekonomi 2026: Peringkat Daya Saing Merosot, Inflasi Mengintai, Ekspor Tertekan

bytedaily - Perekonomian Indonesia pada awal tahun 2026 dihadapkan pada serangkaian tantangan serius, tercermin dari penurunan peringkat daya saing global dan kekhawatiran para ekonom. World Economic Forum (WEF) menempatkan Indonesia di posisi ke-40 dari 69 negara dalam World Competitiveness Ranking (WCR) 2025, sebuah kemunduran signifikan dari peringkat ke-27 sebelumnya. Penilaian ini diperparah oleh posisi Indonesia yang rendah dalam aspek pendidikan (peringkat ke-62), kesehatan dan lingkungan (peringkat ke-63), serta efektivitas institusi pemerintah (peringkat ke-51). Survei LPEM FEB UI semester I 2026 juga mengindikasikan sentimen negatif mayoritas ekonom, yang menilai kondisi ekonomi cenderung memburuk atau stagnan, dengan ekspektasi inflasi yang meningkat dan ancaman terhadap daya beli masyarakat.

Tekanan ekonomi semakin diperparah oleh gejolak nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp17.000 per dolar AS, serta dampak tarif resiprokal Amerika Serikat sebesar 19 persen yang memukul sektor ekspor andalan seperti industri logam, mesin, alat transportasi, elektronika (ILMATE), tekstil, dan alas kaki. Di sisi lain, banjirnya barang ilegal seperti pakaian bekas, mainan anak tanpa Standar Nasional Indonesia (SNI), dan produk elektronik tanpa dokumen kepabeanan turut menambah beban pasar domestik. Laporan Global Risks Report 2025 WEF juga menyoroti lima risiko utama yang mengintai Indonesia dalam dua tahun ke depan, meliputi dampak kecerdasan buatan (AI), pelemahan ekonomi, kemiskinan dan kesenjangan, cuaca ekstrem, serta kekurangan pasokan pangan.

Dalam upaya meredam laju inflasi dan menjaga biaya logistik, pemerintah memutuskan untuk menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi, sebuah kebijakan yang berisiko membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) jika tidak dikelola secara cermat. Sementara itu, di sektor energi, Indonesia menduduki peringkat ke-58 dari 120 negara dalam Energy Transition Index 2025 WEF, turun empat posisi dari tahun sebelumnya dan tertinggal dari negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand, dengan catatan ketergantungan pada energi fosil dan belum optimalnya kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Meskipun demikian, transisi menuju ekonomi hijau membuka peluang besar, dengan proyeksi penciptaan hingga 1,3 juta lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan pada tahun 2050, sebagaimana diungkapkan dalam Future of Jobs Report 2025 WEF.