bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria memaparkan tiga aspek krusial dalam mewujudkan sistem keamanan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. Ketiga aspek tersebut meliputi penyusunan regulasi yang adaptif, pertukaran informasi rutin antara industri dan lembaga nasional, serta pengembangan talenta digital yang mumpuni.
Nezar menekankan bahwa implementasi ketiga aspek ini memerlukan pendekatan kolaboratif yang melibatkan tidak hanya pemerintah, tetapi juga akademisi, industri, dan komunitas masyarakat. Ia menegaskan pentingnya penyesuaian regulasi secara berkelanjutan melalui kerja sama aktif antara pemerintah, industri, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.
Dalam upaya menciptakan regulasi keamanan siber yang efektif, pemerintah secara proaktif membuka ruang partisipasi bagi para pemangku kepentingan. Hal ini tercermin dalam proses pembentukan peraturan pelaksana UU Pelindungan Data Pribadi (PDP) dan Rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS). Pemerintah mengundang para pemangku kepentingan untuk menyumbangkan pengalaman, bukti, dan keahlian mereka guna memastikan kerangka regulasi yang dihasilkan bersifat praktis, adaptif, dan relevan dengan risiko yang dihadapi di lapangan.
Aspek kedua yang disoroti adalah pentingnya pertukaran informasi secara rutin antara sektor industri dan lembaga nasional. Kolaborasi ini bertujuan untuk membahas solusi berbasis AI yang dapat membantu mendeteksi serangan siber. Nezar menambahkan bahwa komunikasi yang baik diperlukan untuk memahami pola serangan siber, sekaligus membangun solusi AI yang mampu mendeteksi dan mencegah serangan tersebut. Solusi ini diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi bisnis skala besar, tetapi juga dapat diakses oleh masyarakat umum untuk keperluan sehari-hari, seperti layanan penyaringan panggilan telepon, pemeriksaan identitas palsu, dan sistem verifikasi pemerintah.
Aspek ketiga dan terakhir yang menjadi fokus adalah penciptaan talenta digital. Nezar mengidentifikasi sumber daya manusia sebagai faktor paling vital dalam mewujudkan keamanan siber berbasis AI, karena mereka tidak hanya bertugas menciptakan solusi, tetapi juga mengelola tata kelola dan memastikan optimalisasi kinerja solusi tersebut. Oleh karena itu, ia mengajak universitas dan mitra industri untuk berperan aktif dalam menumbuhkan talenta digital di bidang keamanan siber, khususnya untuk mengisi posisi-posisi strategis. Selain itu, kolaborasi ini diharapkan dapat menjangkau masyarakat umum, terutama kelompok rentan terhadap serangan siber, guna mempercepat inovasi dalam keamanan siber berbasis AI di Indonesia melalui peningkatan literasi digital.