bytedaily
Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:13 WIB

Tiran Nusantara dan Conch Sepakati Investasi Awal Rp10 Triliun

Redaksi 11 Oktober 2026 12 views
Tiran Nusantara dan Conch Sepakati Investasi Awal Rp10 Triliun
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, PT Tiran Nusantara Grup dan Conch Investment Holdings (Hong Kong) Ltd. menandatangani kerja sama investasi tahap awal senilai Rp10 triliun di Anhui, Tiongkok, pada Jumat, 9 Oktober 2026. Kemitraan tersebut mencakup pengembangan industri manufaktur dan energi hijau.

Direktur Operasional Tiran Nusantara Grup Andi Karyadi dan Direktur Conch Li Xin menandatangani kesepakatan itu. Presiden Komisaris Tiran Nusantara Grup Andi Amar Mar'uf Sulaiman turut menyaksikan penandatanganan.

Proyek yang masuk dalam kerja sama meliputi pembangunan pabrik bahan anoda baterai litium, pabrik kemasan plastik, pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), dan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Nilai kemitraan ini direncanakan meningkat secara bertahap.

Conch bergerak di bidang energi baru, pengolahan limbah, serta material industri dan konstruksi berteknologi tinggi. Investasi perusahaan itu yang telah berjalan di Indonesia disebut mencapai Rp30 triliun. Kerja sama dengan Tiran Nusantara Grup menjadi bagian dari kelanjutan komitmen jangka panjang Conch di Indonesia.

Humas PT Tiran Nusantara Grup Rezki Mulyadi menyatakan kemitraan tersebut mencerminkan kepercayaan mitra internasional terhadap iklim investasi Indonesia dan kapasitas industri nasional. Ia mengatakan perusahaan berkomitmen membangun industri hilir yang ditargetkan menyerap 5.000 tenaga kerja dan memperkuat kemandirian ekonomi.

Komposisi kepemilikan dalam usaha patungan akan disesuaikan dengan karakter tiap proyek. Pada sebagian proyek, Tiran Nusantara Grup memiliki 49 persen dan Conch 51 persen. Untuk usaha patungan lainnya, porsi kepemilikan masing-masing adalah 51 persen bagi Tiran Nusantara Grup dan 49 persen bagi Conch.

Tiran Nusantara Grup didirikan oleh Menteri Pertanian Amran. Perusahaan tersebut bermula dari penelitian Amran tentang serangan hama tikus yang menghasilkan inovasi pengendalian tikus bernama Tiran, singkatan dari Tikus Diracun Amran. Pada 1995, Amran mengurus hak paten untuk sejumlah inovasi, antara lain Tiran 58PS dan Alpostran. Ia tercatat memiliki tujuh hak paten di bidang inovasi pertanian, terutama pengendalian hama. Produk-produknya digunakan petani di Indonesia dan dipasarkan ke sejumlah negara, termasuk Jepang, Malaysia, Vietnam, dan Thailand.

Usaha itu berkembang menjadi embrio Tiran Nusantara Grup pada 2004. Menurut informasi dalam laporan tersebut, grup ini kini menaungi puluhan perusahaan dengan ribuan tenaga kerja di sektor pertambangan, energi, perdagangan, logistik, dan kawasan industri. Perusahaan juga mengoperasikan puluhan kapal angkut, ratusan dump truck, serta alat berat untuk mendukung distribusi bahan baku dan hasil produksi. Grup tersebut mulai berinvestasi di berbagai sektor sejak 2007.

Rezki menyebut seluruh perusahaan dalam Tiran Nusantara Grup dimiliki oleh Amran. Ia juga mengatakan usaha utama racun tikus ditutup sejak Amran diangkat menjadi Menteri Pertanian pada 2014, demi menjaga profesionalisme.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.