bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan El Nino akan berlanjut hingga Februari 2027 dengan peluang hampir 100 persen. Fenomena tersebut berpotensi mengubah pola curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan maupun banjir di sejumlah wilayah.
WMO memperkirakan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat dan mencapai rekor tertinggi pada Oktober hingga puncaknya pada Desember. Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menyebut El Nino telah terbentuk kuat dan intensitasnya meningkat cepat. Fenomena ini berpotensi menjadi salah satu yang terkuat setidaknya sejak 1950.
Prediksi itu merupakan hasil kesepakatan 13 pusat pengamatan iklim nasional dan internasional. Prakiraan disusun berdasarkan data waktu nyata dari pelampung laut, satelit, dan radiosonde yang dikoordinasikan WMO. Saulo menjelaskan El Nino melepaskan panas yang tersimpan di bawah permukaan laut, sehingga fenomena kuat dapat berkontribusi pada terjadinya tahun-tahun terpanas yang tercatat.
Indeks Nino 3.4, yang mengukur suhu permukaan laut di wilayah Pasifik pusat El Nino, meningkat dari rata-rata 1,6 derajat Celsius di atas normal pada Juni 2026 menjadi 2,5 derajat Celsius pada Agustus. Laporan Copernicus, NOAA, dan NASA menyebut Agustus tahun ini sebagai Agustus terpanas dalam catatan mereka.
Untuk periode Oktober-November-Desember, indeks Nino 3.4 diperkirakan rata-rata mencapai sekitar 3,7 derajat Celsius. Jika terjadi, angka itu akan menjadi yang tertinggi sejak pengamatan dimulai, melampaui rekor sebelumnya sebesar 2,6 derajat Celsius pada 2015.
Pola iklim global juga dipengaruhi Indian Ocean Dipole (IOD), yang berpengaruh terhadap curah hujan di sekitar Samudra Hindia dan diperkirakan mencapai puncak pada Oktober. Anomali suhu selama Oktober hingga Desember diperkirakan meningkat sekitar 0,5 derajat Celsius.
WMO memperkirakan peningkatan El Nino akan diikuti pergeseran curah hujan. Kondisi lebih basah dari biasanya berpotensi terjadi di sekitar Pasifik tengah dan timur, di sebelah timur Garis Tanggal Internasional, serta mungkin di Tanduk Afrika, Asia Tengah, Asia Timur, Semenanjung Arab, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.
Sebaliknya, curah hujan yang lebih rendah dan kekeringan di atas normal diperkirakan terjadi di sekitar Pasifik barat dan Samudra Atlantik, termasuk subkontinen India, Amerika Tengah, dan Karibia. Indonesia juga diperkirakan mengalami kekeringan. BMKG menyebut kombinasi El Nino dan IOD membuat musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat dan berlangsung lebih singkat.