bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, teknologi kecerdasan buatan (AI) kini semakin banyak digunakan orang tua di China untuk berkonsultasi mengenai masa depan pendidikan anak mereka. Salah satu contohnya adalah Zhang Qi, seorang pengemudi ojek online di Guangzhou, yang memanfaatkan AI sebagai asisten untuk membantu putranya dalam memilih program studi di perguruan tinggi setelah mengikuti ujian masuk universitas nasional atau gaokao.
Zhang menganggap chatbot AI buatan China sebagai 'penasihat gratis baru' bagi keluarganya. Ia mengaku tidak mampu menyewa konsultan pendidikan berbayar yang umumnya digunakan oleh keluarga kelas menengah. Melalui AI, Zhang mendapatkan informasi mengenai universitas dan jurusan yang sesuai dengan nilai ujian anaknya di seluruh penjuru negeri, sesuatu yang sulit ia lakukan karena kesibukannya mencari nafkah.
Berkat rekomendasi dari chatbot AI, putra Zhang yang sebelumnya berada di Provinsi Shanxi berpeluang mewujudkan mimpinya untuk berkuliah di Shenzhen, sebuah pusat inovasi teknologi terkemuka di China. Sistem penerimaan mahasiswa baru di China sangat bergantung pada hasil ujian gaokao, di mana peserta hanya memiliki waktu singkat untuk menentukan pilihan jurusan setelah hasil ujian keluar.
Popularitas AI dalam membantu pemilihan jalur pendidikan tinggi ini terlihat dari data pengguna yang signifikan. Alibaba melaporkan lebih dari 14 juta pengguna telah mencoba agen AI penerimaan mahasiswa dari asisten AI Qwen mereka hingga akhir Juni. Baidu juga mencatat sekitar 15 juta siswa menggunakan asisten AI buatannya untuk pendaftaran universitas pada periode yang sama, sementara chatbot Yuanbao dari Tencent Holdings telah menjawab hampir 80 juta pertanyaan terkait penerimaan mahasiswa baru.
Tren ini diprediksi akan memengaruhi pasar konsultasi penerimaan universitas di China yang diperkirakan bernilai 1,01 miliar yuan pada 2025 dan tumbuh menjadi 1,22 miliar yuan pada 2027. Sebelumnya, pasar konsultasi ini berkontribusi pada kesenjangan dalam sistem pendidikan tinggi China, di mana keluarga kelas menengah memanfaatkan berbagai cara, termasuk konsultan berbayar, untuk memberikan keunggulan bagi anak mereka.
Sebelum maraknya AI, keluarga pekerja seperti Zhang Qi biasanya mengandalkan saran dari guru sekolah, jaringan keluarga, atau figur publik. Meskipun demikian, konsultan pendidikan tradisional seperti Wu Rui dari Guangzhou berpendapat bahwa AI justru mendorong permintaan untuk jasa konsultasi personal yang lebih mendalam, meskipun menekan layanan konsultasi dasar. Wu Rui sendiri telah memangkas tarif jasanya untuk paket konsultasi standar menyusul popularitas agen AI penerimaan mahasiswa.