bytedaily - Dilansir dari bbc.com, kecerdasan buatan (AI) berpotensi merevolusi industri survei opini publik, menjadikannya lebih efisien dan mendalam. Perusahaan rintisan Prancis, Naratis, memimpin inovasi ini dengan mengembangkan agen AI yang mampu melakukan wawancara kualitatif secara otomatis.
Berbeda dengan survei kuantitatif yang mengandalkan jawaban singkat dari banyak responden, Naratis fokus pada kedalaman percakapan. Responden berdialog dengan AI, memungkinkan analisis tidak hanya tentang apa yang mereka pikirkan, tetapi juga bagaimana mereka membentuk opini dan kapan opini tersebut berubah. Pierre Fontaine, pendiri Naratis, mengklaim metode ini 10 kali lebih cepat, 10 kali lebih murah, dan 90% seakurat survei yang dilakukan manusia.
Proses yang dulunya memakan waktu berminggu-minggu dan biaya puluhan ribu euro, kini dapat diselesaikan dalam satu hingga dua hari. Kecepatan ini dimungkinkan oleh kemampuan AI untuk melakukan ribuan wawancara secara bersamaan, sebuah konsep yang disebut Fontaine sebagai "paralelisasi".
Munculnya AI dalam survei opini publik terjadi di tengah tantangan industri. Tingkat respons survei tradisional menurun drastis, dari lebih dari 30% pada 1990-an menjadi di bawah 5% saat ini, menurut konsultan AI Stéphane Le Brun. Hal ini membuat survei menjadi lebih mahal dan kurang representatif, sehingga memicu ketidakpercayaan publik.
Meskipun ada kegagalan prediksi survei di masa lalu, seperti Brexit atau kemenangan Donald Trump pada 2016, Fontaine berpendapat bahwa masalah tersebut lebih banyak terjadi pada survei kuantitatif. Ia menekankan bahwa riset kualitatif yang didukung AI lebih berfokus pada pemahaman opini, bukan sekadar prediksi hasil.
Perusahaan survei mapan seperti Ipsos juga mulai mengintegrasikan AI, terutama dalam riset pasar. AI digunakan untuk menganalisis rekaman video responden yang mendokumentasikan kebiasaan mereka, memungkinkan pengamatan perilaku secara langsung, bukan hanya mengandalkan laporan diri.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi bbc.com.