bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, perluasan tugas Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dinilai dapat memperkuat koordinasi kebijakan hilirisasi, energi, dan industrialisasi nasional.
Bahlil dilantik sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi pada 1 Oktober 2026. Ia tetap menjalankan tugas sebagai Menteri ESDM. Pemerintah menyatakan penyatuan koordinasi tersebut ditujukan untuk mempercepat agenda hilirisasi dan transisi energi.
Ekonom Universitas Muhammadiyah Surabaya, Fatkur Huda, menilai kedua agenda itu berkaitan erat. Pengolahan mineral memerlukan pasokan energi besar, sedangkan daya saing industri turut ditentukan oleh ketersediaan energi yang kompetitif dan rendah emisi.
Fatkur menyebut realisasi investasi hilirisasi pada semester I 2026 mencapai Rp300,1 triliun, setara sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional. Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan investasi tersebut mencakup sektor mineral, antara lain nikel, bauksit, tembaga, serta besi dan baja.
Menurut Fatkur, jabatan Bahlil di bidang hilirisasi dan ESDM dapat menjadi sarana untuk menyelaraskan kebijakan pertambangan, energi, hilirisasi, dan investasi. Ia menambahkan, kebutuhan energi industri perlu direncanakan sejak awal agar pengembangan usaha tidak terkendala masalah pasokan.
Fatkur juga menilai peningkatan kapasitas pengolahan nikel menunjukkan perubahan industri Indonesia, dari lebih banyak mengekspor bahan mentah menuju kegiatan pengolahan di dalam negeri. Tantangan selanjutnya, kata dia, adalah mendorong hilirisasi hingga menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Untuk nikel, pengembangan dapat mencakup prekursor, katoda, sel baterai, battery pack, kendaraan listrik, hingga industri daur ulang. Tembaga dapat diolah menjadi kabel serta komponen kelistrikan dan elektronik, sedangkan bauksit dapat dikembangkan menjadi aluminium beserta produk turunannya.
Fatkur mengatakan hilirisasi diharapkan tidak berhenti pada pembangunan smelter, tetapi menjadi dasar reindustrialisasi nasional. Ia juga menekankan bahwa energi merupakan unsur penting dalam pengembangan industri tersebut.