bytedaily - Eskalasi konflik yang melibatkan Iran dan sekutunya di Yaman, khususnya Houthi, kembali menyoroti peran krusial Selat Bab el-Mandeb sebagai salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. Potensi blokade jalur ini oleh kelompok Houthi atas perintah Iran diperkirakan dapat mengganggu alur pasokan minyak global secara signifikan.
Selat Bab el-Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, merupakan arteri vital bagi perdagangan maritim, terutama rute dari Asia ke Eropa melalui Terusan Suez. Sekitar 7,8 juta barel minyak mentah dan bahan bakar per hari melintasi selat ini pada tahun 2023, mewakili sekitar 12 persen dari seluruh perdagangan minyak dunia. Selain itu, sekitar 8 persen gas alam cair (LNG) global juga melewati jalur strategis ini.
Apabila blokade benar-benar terjadi, pengiriman minyak dan kargo global diperkirakan terpaksa beralih ke rute alternatif yang jauh lebih panjang melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Hal ini akan menyebabkan peningkatan drastis dalam biaya logistik dan rantai pasok, serta potensi keterlambatan pasokan energi. Para analis memperkirakan hingga 5 juta barel minyak per hari bisa terhambat, menambah parah gangguan yang sudah terjadi di Selat Hormuz.
Situasi ini turut berdampak langsung pada harga minyak dunia, yang dilaporkan melonjak menyusul kekhawatiran atas ketidakstabilan di Timur Tengah. Kenaikan harga minyak mentah Brent dan WTI mencerminkan sentimen pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik yang meluas.