bytedaily
Kamis, 21 Mei 2026 - 08:58 WIB

Ancaman Gelombang Panas & Krisis Energi: Asia Tenggara Bersiap Hadapi Kenaikan Suhu Ekstrem dan Dampak Geopolitik

Redaksi 11 Maret 2026 12 views
Ancaman Gelombang Panas & Krisis Energi: Asia Tenggara Bersiap Hadapi Kenaikan Suhu Ekstrem dan Dampak Geopolitik
Ilustrasi: Ancaman Gelombang Panas & Krisis Energi: Asia Tenggara Bersiap Hadapi Kenaikan Suhu Ekstrem dan Dampak Geopolitik

bytedaily - Asia Tenggara, termasuk Indonesia, diprediksi akan menghadapi gelombang panas dengan suhu di atas normal mulai April 2026. Prakiraan Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) menunjukkan sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami suhu lebih hangat dari rata-rata selama periode Maret-April-Mei. Indonesia dan Malaysia memiliki kemungkinan 80-100 persen mengalami suhu di atas normal, dengan potensi gelombang panas dimulai di kedua negara tersebut sebelum meluas.

Pergeseran iklim global turut memengaruhi kondisi di Indonesia. BMKG memprediksi musim kemarau akan datang lebih awal, dipicu berakhirnya fenomena La Niña Lemah dan potensi berkembangnya El Niño. Indeks ENSO saat ini berada dalam kondisi Netral, namun peluang El Niño kategori lemah hingga moderat meningkat pada semester kedua tahun ini. Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil.

Di tengah potensi kenaikan suhu ekstrem, kawasan ini juga menghadapi tantangan dari sisi energi. Gangguan pasokan energi global akibat ketegangan geopolitik, termasuk serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, memperketat pasokan bahan bakar di Asia Tenggara. Hal ini berpotensi meningkatkan permintaan energi domestik untuk pendinginan dan membebani jaringan listrik, yang sebagian besar masih bergantung pada bahan bakar fosil. Kelangkaan pasokan dan lonjakan harga gas alam cair (LNG) global telah mendorong negara-negara seperti Vietnam dan Thailand untuk mencari pengiriman LNG spot, sementara Singapura memprediksi lonjakan harga listrik pada kuartal kedua.