bytedaily - Krisis gejolak di Timur Tengah memicu kekhawatiran global akan kelancaran pasokan energi. Potensi pembatasan ekspor minyak dan gas, terutama dengan penutupan Selat Hormuz, telah mendorong berbagai negara untuk mengkaji ulang strategi pengadaan energi mereka.
Situasi ini berimbas langsung pada harga minyak dunia yang cenderung stagnan di level tinggi. Pelaku pasar global menunjukkan keresahan atas kemungkinan terganggunya suplai dari salah satu basis produksi energi utama dunia.
Di Indonesia, potensi gangguan pasokan ini menimbulkan pertanyaan krusial mengenai ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM). Kekhawatiran semakin mengemuka mengingat pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia baru-baru ini yang menyebutkan stok BBM nasional hanya mencukupi untuk 20 hari.