bytedaily - Dilansir dari jalopnik.com, angka kematian pejalan kaki di Amerika Serikat mengalami penurunan yang signifikan. Namun, penurunan ini bukanlah hasil dari implementasi teknologi keselamatan kendaraan atau kampanye kesadaran publik, melainkan lebih disebabkan oleh kembalinya pola lalu lintas normal setelah lonjakan kasus selama pandemi COVID-19.
Selama pandemi, jalanan yang lengang justru memicu perilaku mengemudi yang lebih nekat, termasuk penggunaan ponsel saat berkendara, yang berujung pada peningkatan angka kematian pejalan kaki hingga mencapai rekor. Meskipun saat itu banyak orang memilih berjalan kaki atau bersepeda untuk beraktivitas di luar rumah, perilaku berbahaya di jalan raya tetap meningkat.
Data dari Governors Highway Safety Association (GHSA) yang dirilis Maret lalu menunjukkan penurunan 11 persen dalam kasus kematian pejalan kaki dari tahun 2024 ke 2025, dari 3.395 menjadi 3.024 kasus. Angka ini bahkan lebih rendah dibandingkan tahun 2022 yang merupakan puncak kasus kematian pejalan kaki selama pandemi, yaitu 3.526 orang.
Penurunan ini dikaitkan dengan kembalinya volume kendaraan di jalan raya seiring kembalinya aktivitas perkantoran. Kemacetan lalu lintas yang kembali terjadi membuat pengemudi lebih sulit untuk melakukan tindakan berbahaya. Selain itu, upaya peningkatan fasilitas ramah pejalan kaki di beberapa area juga berkontribusi dalam mengurangi risiko.
Namun, para ahli memperingatkan bahwa penurunan ini mungkin tidak bertahan lama. Kenaikan biaya hidup, termasuk harga bensin, kendaraan, dan asuransi, memaksa banyak warga Amerika untuk memilih antara menggunakan kendaraan pribadi atau berjalan kaki. Situasi ini menjadi lebih mengkhawatirkan di daerah pedesaan, di mana pejalan kaki sering kali terpaksa berjalan di tepi jalan raya tanpa trotoar, dengan jarak yang sangat dekat dari kendaraan berkecepatan tinggi. Jika kondisi ekonomi kembali memburuk, angka kematian pejalan kaki dikhawatirkan dapat kembali meningkat.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.