bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengidentifikasi adanya peningkatan aktivitas vulkanik di Gunung Anak Krakatau yang ditandai dengan erupsi berulang sejak Jumat (4/9). Peningkatan aktivitas ini dipicu oleh dinamika magma di dalam gunung.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa frekuensi erupsi yang terus-menerus menunjukkan adanya suplai magma dan gas yang masih berlangsung di dalam tubuh gunung. Meskipun demikian, ia mengimbau masyarakat untuk tidak panik berlebihan, karena tingginya frekuensi letusan tidak serta-merta berarti akan terjadi erupsi yang lebih besar. Evaluasi perkembangan aktivitas akan terus dilakukan berdasarkan seluruh data pemantauan.
Potensi bahaya utama yang perlu diwaspadai di sekitar kawasan kawah dan tubuh gunung meliputi lontaran material pijar, batuan vulkanik, abu vulkanik, serta gas vulkanik berkonsentrasi tinggi. Lontaran material ini dapat merusak peralatan di dekat pusat aktivitas dan membahayakan siapa pun yang memasuki zona terlarang.
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau diprediksi masih berpotensi fluktuatif atau bahkan meningkat dalam beberapa waktu ke depan, berdasarkan rekaman data kegempaan seperti gempa frekuensi rendah, hibrid, harmonik, serta tremor. Jenis kegempaan ini mengindikasikan pergerakan atau pelepasan fluida vulkanik dalam sistem gunung api.
Pihak Badan Geologi menegaskan bahwa prediksi pasti mengenai waktu dan besaran erupsi berikutnya tidak dapat ditentukan. Oleh karena itu, pemantauan berkelanjutan dilakukan untuk mengantisipasi setiap perubahan parameter vulkanik secara real-time. Masyarakat, wisatawan, dan nelayan diimbau untuk mematuhi rekomendasi zona bahaya yang telah ditetapkan dan tidak mendekati kawasan kawah Gunung Anak Krakatau dalam radius aman.