bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan kelangkaan beras premium kemasan 5 kilogram di sejumlah ritel modern bukan disebabkan krisis pasokan. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan menjelaskan, terbatasnya stok berkaitan dengan penarikan beras fortifikasi yang dinilai bermasalah serta dugaan adanya pihak yang memanfaatkan situasi untuk mendorong kenaikan harga.
Menurut Hermawan, sejumlah produsen yang memasok beras fortifikasi ke ritel modern tidak lagi diperbolehkan memproduksi produk tersebut karena ditemukan ketidaksesuaian antara informasi label dan kandungan di dalamnya. Bapanas sedang menindaklanjuti temuan terhadap 25 merek beras fortifikasi dari 11 pelaku usaha.
Satgas Pangan Polri tengah mengevaluasi temuan itu. Hermawan menyebut hampir 90 persen produksi para pelaku usaha terkait dinilai bermasalah dan penarikan beras mereka dari ritel modern telah diperintahkan.
Bapanas juga menduga ada oknum yang memanfaatkan penarikan produk untuk menciptakan kelangkaan semu dan menaikkan harga. Namun, lembaga tersebut menyatakan pasokan beras premium dan medium di pasar tradisional masih tersedia dalam jumlah banyak dengan harga di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).
Berdasarkan pemantauan di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, harga beras premium tercatat sekitar Rp14.200 per kilogram. Angka itu berada di bawah HET Zona I sebesar Rp14.900 per kilogram. Hermawan menyebut sebagian produsen lebih memilih memasok pasar tradisional karena potongan harga di ritel modern membuat margin keuntungan mereka tipis.
Pantauan CNNIndonesia.com di sebuah gerai Alfamart di Bekasi sebelumnya mendapati beras premium kemasan 5 kilogram dari seluruh merek tidak tersedia. Pegawai gerai, Mulyana, mengatakan stok telah kosong sekitar dua bulan dan sejumlah pelanggan menanyakan kapan produk tersebut kembali tersedia. Ia mengaku tidak mengetahui penyebabnya secara pasti, tetapi pasokan dari distributor sedang kosong.