bytedaily
Jumat, 16 Oktober 2026 - 05:25 WIB

Beroperasinya Kembali Dua Smelter PTFI Dukung Pengolahan Tembaga

Redaksi 08 Oktober 2026 14 views
Beroperasinya Kembali Dua Smelter PTFI Dukung Pengolahan Tembaga
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch (IMEW) Ferdy Hasiman menyambut positif kembali beroperasinya PT Smelting dan Smelter Manyar milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik, Jawa Timur. Ia menilai, beroperasinya dua fasilitas tersebut akan mengoptimalkan pengolahan konsentrat tembaga PTFI. Pernyataan itu dikutip pada Rabu (7/10/2026).

PT Smelting sempat berhenti beroperasi sementara sejak 8 Agustus 2026 untuk memperbaiki fasilitas furnace. Adapun Smelter Manyar kembali beroperasi setelah terdampak penghentian kegiatan pascainsiden di tambang Grasberg.

Laporan kuartal III 2026 Freeport-McMoRan (FCX) menyebut kapasitas peleburan gabungan PTFI, termasuk PT Smelting, ditargetkan dapat menghasilkan sekitar 800 ribu ton katoda tembaga per tahun. Aktifnya kembali kedua fasilitas itu memperkuat kapasitas pengolahan konsentrat serta rantai nilai tembaga di dalam negeri.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai pulihnya operasional fasilitas pengolahan PTFI merupakan perkembangan positif. Smelter Manyar kembali menerima konsentrat pada Agustus dan mulai memproduksi katoda tembaga pada September. Sebelumnya, pasokan konsentrat yang terbatas diprioritaskan untuk PT Smelting.

Yusuf berharap kapasitas smelter meningkat secara bertahap seiring pemulihan produksi tambang Grasberg yang ditargetkan berlangsung pada akhir 2027. Ia menilai masa pemulihan itu dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem industri hilir tembaga nasional.

Menurut Yusuf, penambahan kapasitas smelter perlu disertai pengembangan industri pengolahan lanjutan agar lebih banyak nilai tambah tembaga tercipta di dalam negeri. Saat ini, sekitar tiga perempat produksi katoda PT Smelting masih diekspor karena kapasitas industri pengolahan katoda domestik belum memadai.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang untuk mengembangkan industri turunan tembaga di Indonesia. Pemerintah akan mengorkestrasikan pengembangan itu melalui MIND ID, dengan tujuan mendorong pemanfaatan tembaga melampaui produk katoda.

Yusuf mengatakan pengembangan industri tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya permintaan, tetapi juga harga, kepastian kontrak jangka panjang, spesifikasi produk, dan pola pasokan industri.

Ia menilai Indonesia memiliki posisi strategis karena cadangan tembaganya besar. Oleh sebab itu, pengembangan industri hilir perlu diarahkan secara konsisten ke produk bernilai tambah lebih tinggi, seperti batang tembaga, kawat, kabel, hingga copper foil untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.