bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena sejumlah wilayah di Sumatra yang masih mengalami hujan dalam beberapa waktu terakhir, meskipun sebagian besar daerah lainnya mengalami kekeringan akibat musim kemarau dan pengaruh El Nino. BMKG mencatat pada periode 14 hingga 16 Agustus 2026, curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dilaporkan terjadi di beberapa wilayah Sumatra, termasuk Sumatera Utara dengan 93 mm/hari dan Sumatera Barat dengan 87 mm/hari.
Menurut BMKG, beberapa faktor atmosferik menjadi pemicu kondisi tersebut. Salah satunya adalah aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang terdeteksi di sekitar Sumatra, Kalimantan bagian barat dan utara, serta Papua bagian barat dan utara. Fenomena ini diperparah dengan adanya perlambatan dan belokan angin di utara Sumatra, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Papua. Interaksi dinamika atmosfer ini mendukung pembentukan awan konvektif, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat.
BMKG memprediksi bahwa curah hujan di Indonesia secara umum pada periode Dasarian II Agustus hingga Dasarian I September 2026 akan berada pada kategori rendah hingga menengah, yaitu antara 0 hingga 150 mm per dasarian. Dalam sepekan ke depan, aktivitas MJO diperkirakan masih akan memengaruhi sebagian besar wilayah Sumatra, Kalimantan bagian barat dan utara, serta Papua bagian utara dan barat.
Selain MJO, faktor lain yang berkontribusi adalah Gelombang Kelvin yang diprediksi aktif di sebagian besar wilayah Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Potensi Gelombang Rossby Ekuatorial juga terdeteksi berpropagasi di sebagian wilayah Kalimantan bagian utara dan timur. BMKG menyatakan bahwa aktivitas gelombang-gelombang ini dapat mendorong pertumbuhan awan konvektif, terutama di area yang didukung oleh konvergensi angin, kelembaban, dan labilitas atmosfer lokal. MJO sendiri merupakan aktivitas intra-seasonal di wilayah tropis yang ditandai dengan pergerakan aktivitas konveksi dari Samudera Hindia menuju Samudera Pasifik, yang biasanya terjadi setiap 30 hingga 40 hari.