bytedaily
Selasa, 19 Mei 2026 - 05:43 WIB

Cara Menganalisis Reksa Dana dan ETF Menurut Pakar Keuangan

Redaksi 10 Mei 2026 12 views
Cara Menganalisis Reksa Dana dan ETF Menurut Pakar Keuangan
Ilustrasi visual (Sumber: finance.yahoo.com)

bytedaily - Dilansir dari finance.yahoo.com, pakar keuangan pribadi dari The Motley Fool, Robert Brokamp, dan karyawan The Motley Fool, Amanda Kish, membahas faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan saat mengevaluasi reksa dana (mutual funds) dan Exchange Traded Funds (ETFs) dalam episode podcast "Motley Fool Hidden Gems Investing".

Brokamp, dalam edisi "Personal Finance" podcast tersebut, menyebutkan bahwa pembahasan mengenai cara menganalisis dana investasi ini merupakan bagian dari tantangan perencanaan keuangan 2026 mereka. Ia ditemani oleh Amanda Kish untuk mendiskusikan kriteria evaluasi reksa dana dan ETF.

Dalam segmen berita, podcast tersebut menyoroti kenaikan harga minyak yang kembali terjadi, namun pasar saham tampaknya tidak terpengaruh. Per Kamis pagi, S&P 500 tercatat naik lebih dari 12% sepanjang April. Namun, pasar obligasi menunjukkan tanda-tanda kecemasan dengan tingkat imbal hasil (yield) Treasury 10 tahun yang kembali menembus 4,4%, dan Treasury 30 tahun hampir mencapai 5%.

Tingkat imbal hasil Treasury 30 tahun tersebut, kecuali lonjakan singkat di tahun 2023, merupakan level tertinggi sejak awal dekade 2010-an. Kenaikan suku bunga cenderung menurunkan harga obligasi, yang menjelaskan mengapa pasar obligasi secara total imbal hasil (total return) hampir datar sepanjang tahun ini, meskipun imbal hasilnya di atas 4%.

Pasar obligasi tidak dapat mengharapkan bantuan dalam waktu dekat dari Federal Reserve. The Fed baru saja mengakhiri pertemuan terbarunya dengan mempertahankan suku bunga tidak berubah. Pasar berjangka memprediksi suku bunga akan tetap sama hingga akhir tahun, dan jika ada perubahan, kemungkinannya sama besar antara kenaikan atau penurunan suku bunga, mengingat inflasi yang terus meningkat.

Disebutkan pula bahwa pertemuan tersebut kemungkinan menjadi yang terakhir bagi Jerome Powell sebagai Ketua The Fed, meskipun ia memiliki opsi untuk tetap di dewan gubernur. Secara tradisional, ketua the Fed mengundurkan diri setelah masa jabatannya berakhir, namun hal itu tidak wajib. Dalam konferensi pers pasca-pertemuan, Powell menyatakan akan tetap menjabat hingga investigasi mengenai biaya renovasi markas besar The Fed, yang dikenal sebagai Eccles Building, selesai dengan transparansi dan finalitas.

Kenaikan suku bunga juga berdampak pada biaya pinjaman yang menjadi lebih mahal. Hal ini dikaitkan dengan item berita kedua, yaitu artikel dari Ryan Felton di The Wall Street Journal mengenai...


Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi finance.yahoo.com.