bytedaily - Dilansir dari finance.yahoo.com, pasar saham mengalami penurunan pada hari Jumat, seiring dengan lonjakan imbal hasil obligasi Treasury akibat kembalinya kekhawatiran inflasi yang menghantui harga saham. Harga minyak yang mulai melonjak sejak awal Maret dan bertahan tinggi selama lebih dari dua bulan, baru mulai menimbulkan kekhawatiran bagi investor pendapatan tetap pada pekan lalu. Kenaikan imbal hasil ini merupakan lonjakan nyata pertama, meskipun imbal hasil telah cenderung naik dari level rendah sejak akhir Maret.
Beberapa saham, terutama yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI), dinilai mengalami penguatan yang berlebihan, dan kenaikan imbal hasil yang lebih tinggi menjadi pemicu koreksi. Indeks S&P 500 turun 1,2% namun berhasil memperpanjang rekor kenaikan mingguan menjadi tujuh pekan. Indeks Nasdaq dan Nasdaq 100 masing-masing kehilangan 1,5% dan hampir meraih pekan ketujuh kenaikan.
Ketiga indeks utama tersebut membentuk pola candlestick doji mingguan, yang menandakan keraguan dan seringkali menjadi awal perubahan tren, terutama ketika indeks berada dalam posisi yang sudah menguat. Sektor energi menjadi satu-satunya sektor yang mencatat kenaikan pada hari Jumat (+2,4%), sementara sektor Material turun 2,7%, Utilitas turun 2,3%, serta Industri, Konsumen Diskrener, dan Teknologi Informasi masing-masing turun 1,8%.
Pada hari Jumat, imbal hasil Treasury 10 tahun melonjak 13 basis poin (bps) menjadi 4,6%, imbal hasil 5 tahun melonjak 13,7 bps menjadi 4,26%, dan imbal hasil 2 tahun naik 4,5 bps menjadi 4,08%. Level ini merupakan penutupan tertinggi bagi Treasury 10 tahun sejak Mei 2025, dan hasil tertinggi bagi Treasury 2 tahun dan 5 tahun sejak Februari 2025. Imbal hasil Treasury 10 tahun tampak keluar dari fase konsolidasi.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi finance.yahoo.com.