bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, China telah mengerahkan teknologi jembatan apung bertenaga untuk mengevakuasi ribuan warganya yang terjebak akibat banjir besar. Ribuan pelajar dan staf pengajar di Guigang, Daerah Otonomi Etnis Zhuang Guangxi, berhasil dievakuasi menggunakan jembatan apung tersebut setelah hujan deras memecahkan rekor curah hujan di wilayah tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengunggah aksi platform jembatan apung tersebut di media sosial X. Ia menyatakan bahwa jembatan ponton bertenaga mandiri tersebut menjadi jalur penyelamatan terapung yang membantu mengevakuasi lebih dari 6.000 orang yang terjebak ke tempat aman di Guangxi.
Banjir mendadak melanda kompleks pendidikan di Guigang pada Selasa (7/7) malam waktu setempat, menjebak lebih dari sepuluh ribu pelajar dan staf seiring kenaikan permukaan air. Tim penyelamat dari China Anneng Group tiba di lokasi pada hari berikutnya dan menurunkan platform jembatan apung yang diklaim dapat dirakit dalam waktu sekitar sepuluh menit.
Jembatan apung yang dijuluki "kapal induk penyelamat" ini terdiri dari gabungan dua unit kapal dan mampu mengangkut 300 hingga 400 orang dalam sekali perjalanan. Meskipun demikian, proses evakuasi di dalam kompleks yang tergenang menghadapi tantangan navigasi rintangan seperti medan yang terendam air, pepohonan, dan lorong sempit di antara gedung-gedung sekolah.
Bian Fang, Kepala Departemen Penyelamatan Darurat Biro I China Anneng Group, menjelaskan bahwa pengerahan tiga unit kapal dilakukan karena kompleksitas medan dan adanya area yang sangat sempit. Rotasi ketiga unit tersebut memungkinkan operasi yang lincah, aman, dan efisien. Bagi ribuan orang yang terjebak, kedatangan tim penyelamat memberikan harapan setelah mengalami hari-hari yang mencekam.
Qin Zhiyong, seorang mahasiswa Politeknik Vokasi Logistik Guangxi, menceritakan pengalamannya terjebak selama tiga hari dua malam hanya dengan bekal makanan kering. Ia menggambarkan kedatangan tim penyelamat sebagai "cahaya menuju rumah". Berkat kapasitas angkut besar jembatan apung, tim penyelamat berhasil mengevakuasi sekitar enam ribu pelajar dalam kurun waktu kurang dari 20 jam operasi aktif.
Lin Feng, Dekan Kemahasiswaan Politeknik Vokasi Logistik Guangxi, menyebutkan bahwa evakuasi dilanjutkan kembali setiap pagi saat terang karena melakukan operasi di malam hari dinilai terlalu berbahaya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada tim penyelamat atas kerja keras mereka. Para pelajar yang berhasil dievakuasi dilaporkan dalam kondisi lelah namun selamat.