bytedaily
Selasa, 19 Mei 2026 - 02:49 WIB

Dari Dominasi ke Lupakan: Mengapa Penjualan Diesel Mercedes di AS Merosot di Era 80-an

Redaksi 12 Mei 2026 12 views
Dari Dominasi ke Lupakan: Mengapa Penjualan Diesel Mercedes di AS Merosot di Era 80-an
Ilustrasi visual (Sumber: jalopnik.com)

bytedaily - Dilansir dari jalopnik.com, pada era 1980-an, mesin diesel menjadi tulang punggung penjualan Mercedes-Benz di Amerika Serikat, bahkan mencapai hampir 80% dari total penjualan merek tersebut. Namun, kini Mercedes-Benz tidak lagi menjual kendaraan penumpang bermesin diesel di AS sejak tahun 2016. Artikel ini mengupas tuntas alasan di balik penurunan drastis penjualan diesel Mercedes di AS, dari yang tadinya mendominasi menjadi sekadar catatan kaki dalam sejarah otomotif.

Pada dekade 1980-an, Mercedes-Benz dikenal dengan jajaran mesin turbodiesel inline-four dan inline-six yang tangguh. Popularitas mesin diesel ini didorong oleh krisis bahan bakar pada tahun 1970-an, yang membuat produsen mobil mencari cara untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar. Model seperti W123, yang diperkenalkan pada tahun 1976, dianggap sangat kuat dan tahan lama. Mobil-mobil ini dibekali mesin yang dirancang untuk tidak memerlukan servis besar hingga jarak tempuh ratusan ribu mil. Contohnya, W123 300D menggunakan mesin OM617 3.0-liter inline-five yang menghasilkan 80 tenaga kuda dan 127 lb-ft torsi pada tahun 1977. Setelah dilengkapi turbo pada tahun 1982, tenaganya meningkat menjadi 121 hp dan 170 lb-ft torsi, dengan konsumsi bahan bakar sekitar 20-25 mpg.

Model lain yang menonjol adalah W126 300SDL tahun 1986, yang ditenagai oleh mesin OM603 3.0-liter inline-six turbocharged. Mesin ini mampu menghasilkan 148 hp dan 201 lb-ft torsi, dengan efisiensi bahan bakar sekitar 20-22 mpg. Csaba Csere dari Car And Driver pada tahun 1982 pernah menggambarkan kesan keseluruhan mobil-mobil Mercedes era itu sebagai 'segala sesuatu tampak tumbuh secara alami dari massa dasar mobil', menunjukkan rasa kokoh dan keandalan yang luar biasa.

Namun, seiring berjalannya waktu, pasar kendaraan penumpang bermesin diesel menjadi semakin niche. Beberapa faktor berkontribusi pada perubahan ini. Pertama, regulasi emisi yang semakin ketat, termasuk keharusan menyuntikkan DEF (Diesel Exhaust Fluid) ke dalam knalpot untuk memenuhi standar emisi 50 negara bagian di AS. Kedua, skandal Dieselgate yang melibatkan beberapa produsen mobil besar turut merusak citra mesin diesel.

Dalam menghadapi tantangan ini, Mercedes-Benz memutuskan untuk menghentikan penjualan diesel pada kendaraan penumpang di AS pada tahun 2016. Keputusan ini juga sejalan dengan tren elektrifikasi dan hibridisasi yang semakin pesat di industri otomotif. Investasi pada teknologi hibrida dianggap lebih menjanjikan dibandingkan terus mengembangkan mesin diesel yang semakin sulit memenuhi standar lingkungan.


Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.