bytedaily
Kamis, 16 Juli 2026 - 12:29 WIB

Dilema Kebijakan Suku Bunga Tinggi: Stabilitas Rupiah vs. Tekanan Sektor Riil

Redaksi 16 Juli 2026 1 views
Dilema Kebijakan Suku Bunga Tinggi: Stabilitas Rupiah vs. Tekanan Sektor Riil
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha sektor riil, khususnya sektor manufaktur dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kenaikan ini menyebabkan lonjakan biaya pinjaman atau *cost of fund* yang semakin mahal.

Langkah BI menaikkan suku bunga acuan, yang sebelumnya ditahan selama tujuh bulan di level 4,75 persen, dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian geopolitik global dan sebagai langkah antisipasi untuk mengendalikan inflasi pada tahun 2026-2027 sesuai target pemerintah. Namun, hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai keseimbangan antara menjaga stabilitas rupiah dengan potensi mengorbankan laju ekspansi dunia usaha.

Analis Senior ISEAI, Ronny P Sasmita, menjelaskan bahwa kebijakan suku bunga tinggi yang berlangsung lama dapat memperlambat ekspansi usaha, menekan investasi baru, memperburuk likuiditas perusahaan, dan pada akhirnya mengganggu penciptaan lapangan kerja. Ia menekankan risiko ekonomi menjadi "stabil tapi stagnan" jika kebijakan terlalu defensif. Menurutnya, ini adalah dilema klasik dalam kebijakan moneter yang membutuhkan titik keseimbangan agar stabilitas tidak mengorbankan pertumbuhan.

Ronny menyarankan agar BI tidak hanya bertumpu pada instrumen suku bunga. Terdapat ruang untuk mengoptimalkan instrumen lain seperti intervensi valas, operasi moneter, dan kebijakan makroprudensial yang lebih longgar untuk sektor produktif, misalnya dengan memberikan insentif likuiditas atau relaksasi kredit. Peran pemerintah juga krusial melalui stimulus fiskal yang terarah, insentif pajak untuk industri padat karya, serta dukungan pembiayaan bagi UMKM. Selain itu, reformasi struktural seperti efisiensi logistik, kepastian regulasi, dan kemudahan berusaha perlu dipercepat untuk mengimbangi beban biaya tinggi akibat suku bunga.

Pengamat Ekonomi CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menambahkan bahwa langkah BI menaikkan dan menahan suku bunga di level tinggi di tengah tekanan eksternal bertujuan untuk menjaga kredibilitas kebijakan, bukan semata-mata mengetatkan kebijakan moneter. Ia menilai stabilitas nilai tukar merupakan prasyarat mutlak bagi keberlangsungan ekonomi.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.