bytedaily
Selasa, 19 Mei 2026 - 17:34 WIB

Dorong Kemandirian Energi, Pemerintah Kaji CNG sebagai Pengganti LPG Impor

Redaksi 28 April 2026 10 views
Dorong Kemandirian Energi, Pemerintah Kaji CNG sebagai Pengganti LPG Impor
Ilustrasi visual (Credit Foto/Gambar: EKONOMI.REPUBLIKA.CO.ID)

bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah serius mengkaji opsi pengembangan bahan bakar gas Compressed Natural Gas (CNG) sebagai langkah strategis untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa wacana pemanfaatan CNG ini masih dalam tahap pembahasan mendalam dan konsolidasi antarinstansi terkait sebelum ditetapkan menjadi kebijakan energi nasional. "Pengembangan CNG masih dalam pembahasan dan akan difinalisasi. Ini menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat kemandirian energi dari sektor LPG," ujar Bahlil usai menghadiri rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin (27/4/2026).

Menurut Bahlil, inisiatif ini merupakan bagian dari upaya mendorong kemandirian energi nasional, terutama dalam mengurangi dominasi impor LPG yang selama ini menjadi kebutuhan utama rumah tangga dan industri.

CNG, yang merupakan gas bumi terkompresi, memiliki komponen utama metana dan etana. Ketersediaan sumber daya gas alam di dalam negeri dinilai relatif melimpah. Gas ini kemudian dipadatkan melalui proses kompresi menggunakan peralatan khusus hingga mencapai tekanan antara 250 hingga 400 bar, sehingga siap digunakan sebagai bahan bakar alternatif.

Potensi pemanfaatan CNG dinilai sangat besar mengingat cadangan gas domestik lebih berlimpah dibandingkan bahan baku LPG, yaitu propana dan butana, yang produksinya di Indonesia masih terbatas. Meskipun demikian, pemerintah masih terus melakukan kajian teknis secara mendalam dan melakukan konsolidasi internal guna memastikan bahwa implementasi CNG dapat berjalan secara efektif dan memberikan keuntungan maksimal bagi ketahanan energi nasional. "Masih dalam tahap konsolidasi agar hasilnya lebih optimal," pungkas Bahlil.


Sumber Referensi: Artikel ini disadur dan diolah kembali dari publikasi ekonomi.republika.co.id. Credit Gambar: Hak cipta visual milik EKONOMI.REPUBLIKA.CO.ID.