bytedaily - Menurut informasi dari ekonomi.republika.co.id, kekhawatiran masyarakat mengenai kondisi ekonomi nasional akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai tidak perlu berlebihan. Seorang ekonom mengingatkan bahwa sejumlah indikator makroekonomi menunjukkan ekonomi Indonesia masih dalam kondisi yang cukup kuat dan belum mengarah pada krisis.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, seperti kebijakan kenaikan suku bunga di negara-negara maju serta ketidakpastian geopolitik di tingkat global. Ia menegaskan bahwa situasi yang terjadi merupakan fase penyesuaian terhadap dinamika global, bukan merupakan sinyal krisis.
Josua Pardede memaparkan bahwa beberapa indikator ekonomi nasional masih menunjukkan ketahanan meskipun menghadapi tekanan global. Inflasi pada bulan Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan, yang masih berada dalam rentang target Bank Indonesia. Selain itu, cadangan devisa Indonesia per April mencapai 146,2 miliar dolar AS, yang setara dengan 5,8 bulan impor, jauh melampaui standar kecukupan internasional yang berkisar pada tiga bulan impor. Cadangan devisa ini berperan penting sebagai bantalan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026. Angka ini merupakan laju pertumbuhan tercepat dalam lebih dari tiga tahun terakhir, yang ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen dan investasi yang tetap kuat di level 5,96 persen.
Sektor keuangan juga menunjukkan ketahanan, dengan rasio kecukupan modal perbankan (CAR) sebesar 25,83 persen dan rasio kredit bermasalah (NPL) gross hanya sebesar 2,17 persen.