bytedaily
Senin, 06 Juli 2026 - 03:55 WIB

Elon Musk: Profil Orang Terkaya di Dunia dan Potensi Triliuner

Redaksi 04 Juni 2026 14 views
Elon Musk: Profil Orang Terkaya di Dunia dan Potensi Triliuner
Ilustrasi visual (Sumber: bbc.com)

bytedaily - Dilansir dari bbc.com, Elon Musk, sosok miliarder yang tak henti-hentinya menjadi sorotan media, berpotensi menjadi triliuner di masa depan. Saat ini, ia menjabat sebagai pemimpin SpaceX, Tesla, dan X (sebelumnya Twitter), serta dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia.

Pada Oktober 2025, Musk tercatat sebagai orang pertama yang mencapai kekayaan bersih lebih dari setengah triliun dolar, menurut Forbes. Sebulan kemudian, pemegang saham Tesla menyetujui paket kompensasi rekor yang bisa bernilai hingga $1 triliun. Rencana penawaran umum perdana (IPO) SpaceX, perusahaan yang bergerak di bidang roket eksplorasi antariksa, infrastruktur, serta memiliki xAI dan Starlink, diprediksi dapat mendorong kekayaan bersihnya mencapai sekitar $1 triliun.

Selain kiprah bisnisnya, Musk juga dikenal luas karena pandangannya mengenai berbagai topik, terutama politik, yang kerap ia sampaikan melalui platform media sosialnya. Pada awal 2024, pengaruhnya semakin meluas setelah kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS, di mana Musk memainkan peran kunci namun kontroversial sebelum hubungan mereka memburuk.

Kontroversi politik Musk tidak hanya terjadi di AS, tetapi juga di negara lain seperti Inggris dan Jerman, di mana unggahan dan komentarnya mengenai urusan terkini sering kali memicu kemarahan politisi. Namun, keterlibatannya dalam politik tampaknya berdampak pada bisnisnya; beberapa analis mengaitkan penurunan penjualan Tesla pada 2025 sebagian disebabkan oleh sentimen negatif pelanggan terhadap Musk.

Lahir di Pretoria, Afrika Selatan, Musk menunjukkan bakat kewirausahaannya sejak dini. Ia pernah menjual telur Paskah cokelat buatan sendiri bersama saudaranya dan mengembangkan permainan komputer pertamanya pada usia 12 tahun. Ia menggambarkan masa kecilnya sulit, dipengaruhi oleh perceraian orang tuanya, perundungan di sekolah, serta kesulitan dalam memahami isyarat sosial akibat Sindrom Asperger.

Ia segera meninggalkan rumah untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, pindah ke Kanada lalu ke AS, di mana ia mempelajari ekonomi dan fisika di University of Pennsylvania. Istri pertamanya, Justine Musk, dalam esai tahun 2010, menggambarkannya sebagai sosok yang tidak mudah menerima penolakan dan memiliki dorongan kuat untuk bersaing dan mendominasi, yang juga ia bawa ke dalam hubungan rumah tangga.

Setelah diterima di program pascasarjana fisika di Stanford University, Musk segera keluar untuk mendirikan dua perusahaan rintisan teknologi di era "dotcom boom" tahun 1990-an. Salah satunya adalah perusahaan perangkat lunak web dan perusahaan perbankan online yang kelak menjadi PayPal, yang dijual ke eBay pada tahun 2002 seharga $1,5 miliar.

Ia kemudian menginvestasikan kekayaannya ke perusahaan roket baru, SpaceX, dengan tujuan menjadi alternatif hemat biaya bagi NASA, dan perusahaan mobil listrik baru, Tesla, di mana ia menjabat sebagai ketua dewan sebelum menjadi chief executive pada tahun 2008. Kedua perusahaan ini dianggap telah mendobrak industri masing-masing, meskipun terkadang nyaris mengalami kebangkrutan.

Usaha bisnis lainnya termasuk akuisisinya terhadap platform media sosial Twitter pada Oktober 2022. Ambisi jangka panjang Musk adalah menjadikan X sebagai "aplikasi segalanya" yang menawarkan berbagai layanan. Namun, nilai perusahaan tersebut anjlok dari $44 miliar yang ia bayarkan menjadi hanya $9,4 miliar menurut beberapa perkiraan, dan beberapa perusahaan dilaporkan meninggalkan platform tersebut.


Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi bbc.com.