bytedaily
Kamis, 21 Mei 2026 - 14:48 WIB

Fluktuasi Harga Minyak Mentah Picu Kekhawatiran Resesi Global, Dampak Gangguan Pasokan Iran

Redaksi 10 Maret 2026 11 views
Fluktuasi Harga Minyak Mentah Picu Kekhawatiran Resesi Global, Dampak Gangguan Pasokan Iran
Ilustrasi: Fluktuasi Harga Minyak Mentah Picu Kekhawatiran Resesi Global, Dampak Gangguan Pasokan Iran

bytedaily - Harga minyak mentah global mengalami penurunan signifikan, bergerak di bawah level 90 dolar AS per barel, setelah sempat melonjak di atas 110 dolar AS. Penurunan ini terjadi usai harga minyak Brent acuan internasional menyentuh 119,50 dolar AS dan minyak West Texas Intermediate (WTI) mencapai 119,48 dolar AS per barel pada awal Maret 2026. Presiden AS Donald Trump mengomentari situasi ini dengan menyatakan bahwa perang dengan Iran dinilai 'sangat selesai', meski harga minyak saat ini masih lebih tinggi dibandingkan periode sebelum serangan Israel dan AS ke Iran pada akhir Februari 2026.

Lonjakan harga minyak sebelumnya dipicu oleh gangguan serius pada produksi dan distribusi minyak global. Serangan AS terhadap infrastruktur vital Iran, termasuk fasilitas produksi minyak, mengakibatkan terganggunya pasokan energi. Iran merespons dengan menutup jalur perdagangan strategis Selat Hormuz, memperparah situasi ketersediaan minyak di pasar internasional. Negara-negara produsen utama di Timur Tengah seperti Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab juga terpaksa mengurangi produksi karena keterbatasan ekspor dan kapasitas penyimpanan yang penuh.

Para analis memperingatkan potensi ini sebagai guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern, bahkan melampaui krisis minyak tahun 1970-an. Peneliti dari Cornell University menyebutkan hilangnya minyak dari pasar global saat ini bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat dari krisis sebelumnya. Penutupan Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia, menimbulkan kekhawatiran pemulihan produksi akan memakan waktu berminggu-minggu bahkan lebih lama. Ada prediksi harga minyak bisa mencapai 150 dolar AS per barel jika kondisi ini berlanjut, melampaui rekor tertinggi menjelang krisis finansial global 2008 dan berpotensi memicu inflasi global serta menekan daya beli masyarakat.

Dampak ekonomi diperkirakan akan sangat terasa di Asia, yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah. Ekspor minyak Iran sendiri, yang sebagian besar ditujukan ke China, mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari sebelum gangguan ini terjadi, menunjukkan kerentanan rantai pasok energi global.