bytedaily - Dilansir dari jalopnik.com, sistem immobilizer pada kendaraan terbukti efektif dalam mencegah pencurian mobil. Fenomena pencurian kendaraan Kia yang marak, yang dikenal dengan istilah "Kia Boyz", menjadi salah satu bukti nyata. Masalah ini muncul setelah diketahui bahwa banyak produk Kia dijual tanpa dilengkapi immobilizer, sehingga memudahkan pelaku kejahatan untuk mencuri kendaraan tersebut. Bahkan seorang reporter yang meliput kasus ini turut menjadi korban pencurian Kia Forte miliknya.
Namun, ketika Kia merilis pembaruan perangkat lunak yang secara efektif memberikan teknologi immobilizer pada kendaraan yang terdampak, tingkat pencurian dilaporkan menurun drastis. Menurut data dari Highway Loss Data Institute (HLDI), model Kia yang menerima pembaruan tersebut mengalami penurunan klaim asuransi terkait pencurian sebesar 53% dibandingkan dengan kendaraan yang tidak diperbarui. Angka ini mencakup seluruh klaim yang berhubungan dengan pencurian, termasuk komponen kendaraan atau barang yang hilang dari dalam mobil. Jika dilihat secara spesifik pada "pencurian seluruh kendaraan", klaim menurun sebesar 64% pada mobil yang diperbarui.
Data HLDI ini melengkapi temuan studi yang lebih ekstensif dari Security Journal. Para ahli dalam jurnal tersebut menganalisis tingkat pencurian mobil di Amerika Serikat dari tahun 1990 hingga 2020 dan menemukan penurunan signifikan sebesar 80%, yang secara langsung dikaitkan dengan peningkatan penggunaan immobilizer mesin.
Kasus Kia ini juga memicu berbagai tuntutan hukum, yang berujung pada kesepakatan bahwa seluruh kendaraan Kia dan Hyundai wajib dilengkapi immobilizer standar di masa mendatang. Meskipun demikian, belum ada undang-undang nasional yang mewajibkan semua produsen otomotif untuk menyertakan teknologi ini, berbeda dengan negara-negara seperti Kanada, Australia, dan Uni Eropa. Situasi krisis pencurian Kia ini kemungkinan besar dapat dicegah jika regulasi serupa sudah diberlakukan di AS.
Cara kerja immobilizer adalah dengan menambahkan mekanisme pengaman tambahan. Saat kunci kontak diputar, sirkuit listrik antara aki dan starter terhubung, sehingga starter mendapatkan daya. Tanpa immobilizer, mobil dapat "dihidupkan paksa" dengan menyambungkan kabel yang tepat untuk melewati kunci. Immobilizer mencegah hal ini karena hanya menyambungkan kabel saja tidak cukup. Transponder elektronik terpisah, yang biasanya terintegrasi dalam kunci, harus dikenali oleh sistem agar aliran listrik dapat mengalir.
Teknologi ini pertama kali diperkenalkan oleh General Motors (GM) melalui sistem Vehicle Anti-Theft System (VATS) pada Chevrolet Corvette tahun 1986, yang dilengkapi resistor pada kunci. Saat kunci diputar, jumlah arus yang melewati resistor diukur. Mobil hanya akan menyala jika arus tersebut berada pada tingkat yang benar, meskipun sirkuit telah terhubung.
Namun, sistem start tanpa kunci (push-button start) modern juga menghadapi tantangan tersendiri. Bukti menunjukkan bahwa setelah beberapa tahun awal kemunculannya, pencurian mobil tanpa kunci justru meningkat. Celah keamanan ini muncul karena pelaku dapat mencegat sinyal dari key fob, menggandakannya, lalu menggunakan sinyal palsu tersebut untuk menipu sistem keamanan mobil. Meskipun demikian, masih ada cara untuk memanfaatkan immobilizer dalam upaya pencegahan.
Seiring dengan terus berkembangnya "perlombaan senjata" dalam pencegahan pencurian kendaraan, produsen otomotif terus meningkatkan keamanan mereka. Contohnya adalah sistem tanpa kunci yang dilengkapi sensor gerak terintegrasi. Perusahaan seperti Audi, BMW, Ford, dan Mercedes-Benz menggunakan teknologi ini, yang menonaktifkan sinyal key fob jika tidak bergerak dalam jangka waktu tertentu. Hal ini mencegah pencuri memanfaatkan fitur tersebut.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.