bytedaily
Sabtu, 22 Agustus 2026 - 02:10 WIB

Indonesia Perlu Siapkan Spektrum Frekuensi untuk Era 6G

Redaksi 10 Juli 2026 15 views
Indonesia Perlu Siapkan Spektrum Frekuensi untuk Era 6G
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, teknologi jaringan telekomunikasi 6G diprediksi akan siap digunakan secara global dalam waktu dekat. Menanggapi hal ini, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sarwoto Atmosutarno menekankan pentingnya persiapan pemanfaatan pita frekuensi 6GHz dan kesiapan menuju 6G dilakukan jauh sebelum teknologi tersebut tersedia secara komersial di pasar global.

Sarwoto menyoroti kecenderungan lambatnya Indonesia dalam mengadopsi teknologi baru, seperti yang terjadi pada implementasi 5G. Ia mencontohkan bahwa 5G telah ada di laboratorium sejak 2012 dan mulai diterapkan secara global sekitar 2017, sementara Indonesia baru meluncurkan jaringan 5G pada 2021. Tingkat penetrasi 5G di Indonesia yang belum mencapai 10 persen juga tertinggal jauh dibandingkan negara lain yang sudah di atas 70 persen.

Meskipun demikian, Sarwoto berpendapat bahwa tidak menjadi masalah jika Indonesia langsung beralih ke 6G, asalkan didukung oleh pemanfaatan kegiatan ekonomi dan non-ekonomi yang jelas. Ia menyatakan bahwa pasar pada akhirnya akan merespons tergantung pada kebutuhan pengguna.

Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital, Adis Alifiawan, mengidentifikasi perlunya penambahan spektrum frekuensi baru untuk mendukung pengembangan teknologi 6G. Kapasitas spektrum seluler nasional yang diperkirakan mencapai sekitar 712 MHz setelah lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz dianggap belum mencukupi untuk kebutuhan 6G di masa depan yang diperkirakan jauh lebih besar.

Adis menjelaskan bahwa setiap operator telekomunikasi diperkirakan membutuhkan sekitar 200 MHz spektrum frekuensi agar dapat mengoperasikan layanan 6G secara optimal. Ketersediaan spektrum terbesar saat ini dari lelang hanya sekitar 190 MHz, sehingga diperlukan upaya penyiapan pita frekuensi tambahan. Ia menegaskan bahwa penggunaan frekuensi yang ada tidak akan cukup dan proper untuk pengembangan 6G.

Pita frekuensi kategori mid-band dinilai sebagai salah satu pilihan yang menjanjikan karena menawarkan keseimbangan antara kapasitas jaringan dan jangkauan layanan. Komdigi saat ini masih mengkaji berbagai alternatif pemanfaatan spektrum, termasuk pita kategori upper (tinggi) 6 GHz yang sedang dibahas dalam forum internasional menjelang World Radio communication Conference (WRC) 2027 sebagai salah satu kandidat spektrum untuk layanan 6G.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.