Washington, 10 Oktober 2024 - Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) merilis data Consumer Price Index (CPI) untuk September 2024, menunjukkan inflasi headline turun menjadi 2,4% secara tahunan, level terendah sejak Februari 2021. Penurunan ini didorong oleh stabilisasi harga energi dan penurunan harga bahan bakar kendaraan.
Core CPI, yang mengecualikan makanan dan energi yang volatile, naik 3,3% tahun-ke-tahun, sedikit lebih rendah dari estimasi pasar 3,6%. Bulanan, headline CPI naik 0,2%, sementara core CPI juga 0,3%, menandakan tren desinflasi yang konsisten sepanjang tahun ini.
Para ekonom dari Federal Reserve Bank of New York mencatat bahwa momentum inflasi semakin mendekati target 2% Fed. Analisis ekonometrik menggunakan model Phillips Curve menunjukkan korelasi negatif antara pengangguran rendah (4,1%) dan inflasi yang melambat, berkat peningkatan produktivitas tenaga kerja.
Data ini memperkuat ekspektasi pasar untuk pemangkasan suku bunga Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC 30 Oktober-1 November 2024. Futures pasar menunjukkan probabilitas 95% untuk langkah tersebut, menurut CME FedWatch Tool.
Secara global, pelemahan inflasi AS berpotensi meredakan tekanan pada mata uang emerging markets, termasuk rupiah Indonesia, melalui penurunan yield Treasury AS. Studi IMF terbaru (World Economic Outlook, Oktober 2024) memproyeksikan pertumbuhan GDP AS 2,8% tahun ini, didukung oleh konsumsi rumah tangga yang kuat.